Berita

Perdana Menteri Nepal, K.P. Sharma Oli/Net

Dunia

Situasi Covid-19 Memburuk, Nepal Layaknya Mini-India

KAMIS, 06 MEI 2021 | 07:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sementara perhatian dunia terfokus pada India, negara yang paling parah terkena virus corona di dunia dalam hal peningkatan jumlah, negara tetangganya di sebelah utara, Nepal, melaporkan lebih dari 7.000 kasus harian selama tiga hari berturut-turut dari Minggu hingga Selasa.

Seorang dokter di rumah sakit Bheri Nepal bahkan menyebut situasi di negara itu layaknya ‘mini-India’.

The Kathmandu Post
melaporkan pada Rabu (5/5), bahwa saat ini  Nepal telah mencatat total 351.005 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi, dengan 3.417 kematian.


Menyikapi situasi tersebut, sejumlah perusahaan China yang berada di negara itu memutuskan  menangguhkan atau memperlambat pekerjaan mereka, tetapi belum ada rencana untuk meninggalkan negara itu untuk sementara waktu.

“Kami memutuskan untuk menunda pembangunan proyek karena wabah kali ini,” kata seorang manajer proyek lokal dari sebuah perusahaan investasi China, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, seperti dikutip dari Global Times, Rabu (5/5).

Manajer tersebut mengatakan Nepal telah menutup negara itu selama lima bulan karena epidemi. Pekerjaan lapangan terkait studi kelayakan dari proyek tersebut telah ditunda karena personel, mesin, dan material, tidak dapat dikirim ke negara tersebut.

Orang lain yang dekat dengan proyek bantuan China di Nepal juga memastikan bahwa proyek pemerintahan tidak akan berhenti dengan normalisasi epidemi, tetapi mereka akan mengambil langkah-langkah untuk maju terus..

“Situasi epidemi parah di negara ini saat ini, tetapi kami tidak akan mempertimbangkan untuk pergi saat ini,” kata orang yang lebih suka tidak disebutkan namanya itu.

“Semua pekerja dalam proyek tersebut telah divaksinasi, dan bahan anti-epidemi juga memadai untuk memastikan keamanan mereka,” kata orang tersebut.

Nepal, negara dengan populasi kurang dari 30 juta orang, dilaporkan menghadapi kekurangan tempat tidur rumah sakit, oksigen, dan persediaan medis lainnya akibat banyaknya kasus Covid-19 yang kembali muncul.

Perdana Menteri Nepal, K.P. Sharma Oli, pada hari Senin bahkan telah meminta negara-negara tetangga dan komunitas internasional untuk memberi bantuan dengan vaksin dan pasokan obat-obatan perawatan kritis untuk mendukung perjuangan anti-epidemi negara itu, lapor Reuters.

Oli juga mengatakan bahwa pejabat pemerintah Nepal melakukan kontak dengan China dan Rusia serta produsen lain untuk segera mengamankan vaksin, menurut laporan itu.

Wakil presiden Asosiasi China Rantau Nepal, Chen Xiaoshuang mengatakan, bahwa asosiasi tersebut bersedia memberikan obat-obatan dan perawatan kesehatan lainnya kepada orang-orang Nepal jika diperlukan karena situasi epidemi di Nepal terus memburuk.

Dia mengatakan bahwa pihaknya akan segera mendirikan ‘Apotek Cinta’ yang diprakarsai oleh tim bantuan medis China untuk menyediakan obat-obatan penting bagi asosiasi tersebut, termasuk obat-obatan terkait Covid-19.

“Asosiasi siap membantu orang Nepal dengan materi ini jika diperlukan,” katanya.

Pemerintah China juga telah mengirim 800.000 dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinopharm ke Nepal pada 29 Maret.  Pada 7 April, pemerintah Nepal kemudian mulai memberikan vaksin yang diberikan oleh China itu kepada warganya. Sekitar 300.000 orang telah menerima vaksin Sinopharm pada akhir April.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya