Perdana Menteri Nepal, K.P. Sharma Oli/Net
Sementara perhatian dunia terfokus pada India, negara yang paling parah terkena virus corona di dunia dalam hal peningkatan jumlah, negara tetangganya di sebelah utara, Nepal, melaporkan lebih dari 7.000 kasus harian selama tiga hari berturut-turut dari Minggu hingga Selasa.
Seorang dokter di rumah sakit Bheri Nepal bahkan menyebut situasi di negara itu layaknya ‘mini-India’.
The Kathmandu Post melaporkan pada Rabu (5/5), bahwa saat ini Nepal telah mencatat total 351.005 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi, dengan 3.417 kematian.
Menyikapi situasi tersebut, sejumlah perusahaan China yang berada di negara itu memutuskan menangguhkan atau memperlambat pekerjaan mereka, tetapi belum ada rencana untuk meninggalkan negara itu untuk sementara waktu.
“Kami memutuskan untuk menunda pembangunan proyek karena wabah kali ini,†kata seorang manajer proyek lokal dari sebuah perusahaan investasi China, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, seperti dikutip dari
Global Times, Rabu (5/5).
Manajer tersebut mengatakan Nepal telah menutup negara itu selama lima bulan karena epidemi. Pekerjaan lapangan terkait studi kelayakan dari proyek tersebut telah ditunda karena personel, mesin, dan material, tidak dapat dikirim ke negara tersebut.
Orang lain yang dekat dengan proyek bantuan China di Nepal juga memastikan bahwa proyek pemerintahan tidak akan berhenti dengan normalisasi epidemi, tetapi mereka akan mengambil langkah-langkah untuk maju terus..
“Situasi epidemi parah di negara ini saat ini, tetapi kami tidak akan mempertimbangkan untuk pergi saat ini,†kata orang yang lebih suka tidak disebutkan namanya itu.
“Semua pekerja dalam proyek tersebut telah divaksinasi, dan bahan anti-epidemi juga memadai untuk memastikan keamanan mereka,†kata orang tersebut.
Nepal, negara dengan populasi kurang dari 30 juta orang, dilaporkan menghadapi kekurangan tempat tidur rumah sakit, oksigen, dan persediaan medis lainnya akibat banyaknya kasus Covid-19 yang kembali muncul.
Perdana Menteri Nepal, K.P. Sharma Oli, pada hari Senin bahkan telah meminta negara-negara tetangga dan komunitas internasional untuk memberi bantuan dengan vaksin dan pasokan obat-obatan perawatan kritis untuk mendukung perjuangan anti-epidemi negara itu, lapor
Reuters.
Oli juga mengatakan bahwa pejabat pemerintah Nepal melakukan kontak dengan China dan Rusia serta produsen lain untuk segera mengamankan vaksin, menurut laporan itu.
Wakil presiden Asosiasi China Rantau Nepal, Chen Xiaoshuang mengatakan, bahwa asosiasi tersebut bersedia memberikan obat-obatan dan perawatan kesehatan lainnya kepada orang-orang Nepal jika diperlukan karena situasi epidemi di Nepal terus memburuk.
Dia mengatakan bahwa pihaknya akan segera mendirikan ‘Apotek Cinta’ yang diprakarsai oleh tim bantuan medis China untuk menyediakan obat-obatan penting bagi asosiasi tersebut, termasuk obat-obatan terkait Covid-19.
“Asosiasi siap membantu orang Nepal dengan materi ini jika diperlukan,†katanya.
Pemerintah China juga telah mengirim 800.000 dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinopharm ke Nepal pada 29 Maret. Pada 7 April, pemerintah Nepal kemudian mulai memberikan vaksin yang diberikan oleh China itu kepada warganya. Sekitar 300.000 orang telah menerima vaksin Sinopharm pada akhir April.