Mahasiswa China di Universitas Columbia/Net
Kedutaan dan konsulat AS di China mulai menerima kembali aplikasi visa pelajar yang sempat ditangguhkan tahun lalu di tengah Covid-19.
Namun, banyak yang akan berpikir panjang untuk mengambil keputusan apakah mereka akan kembali menempuh pendidikan di AS.
Beberapa mengatakan meskipun mereka berhasil menerima visa, mereka masih khawatir akan keselamatan mereka, mengingat maraknya serangan terhadap orang Asia sejak terjadi pandemi Covid-19 yang tak jarang menyasar para mahasiswa China. Sentimen anti-China di AS membuat mereka berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikannya.
Kekhawatiran lainnya adalah soal vaksin. Beberapa siswa yang dihubungi oleh media lokal mengungkapkan keprihatinan mereka bahwa AS tidak mengenali vaksin yang mereka terima di China, sehingga akan menjadi masalah pada keberangkatan mereka.
"Banyak siswa di sekitar saya masih memantau situasi. Saya tahu beberapa telah memutuskan untuk melepaskan universitas Amerika dan pindah ke Eropa atau Jepang, atau memilih untuk bekerja sebentar," kata Cao Di, seorang siswa senior di Universitas Bisnis Internasional dan Ekonomi.
Profesor di Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri China, Li Haidong, mengatakan bahwa penyebaran epidemi Covid-19 di AS dan polarisasi negara terkait masalah tersebut, serta serangan terhadap orang Asia, semuanya telah meningkatkan kekhawatiran mahasiswa Tiongkok. Banyak dari mereka akan menghindari AS sebagai tujuan belajar di luar negeri.
"Meskipun masih ada sejumlah besar mahasiswa China yang pergi ke AS, akan ada penurunan jumlah dibandingkan dengan sebelum pandemi," kata Li.
Mahasiswa China dan orang tua mereka kurang memiliki rasa aman tentang belajar di AS, menurutnya.
Selain faktor keamanan dan kekhawatiran sentimen Anti-China, bagi yang tetap ingin melanjutkan pendidikannya di AS pun tidak serta merta bisa mulus begitu saja.
"Beberapa siswa menerima kabar baik, beberapa menerima kabar buruk," kata seorang konsultan pengajuan visa AS yang berbasis di Beijing kepada media China,
Global Times pada Selasa, di hari pertama melanjutkan aplikasi visa pelajar.
Dia mengatakan bahwa sejumlah kecil siswa yang mendaftar, ditolak atau ditangguhkan oleh petugas visa.
Pelajar China dari sekolah 'dengan latar belakang militer' menghadapi pengawasan yang lebih ketat dan peluang mereka untuk mendapatkan visa sangat tipis.
"Saya sudah menyerah untuk belajar di AS. Tidak akan ada harapan bagi saya (untuk pergi ke AS)," kata Sinan, seorang mahasiswa PhD dalam penelitian kedirgantaraan, seperti dikutip dari Global Times Rabu (5/5).
Sekolah Sinan termasuk di antara daftar sekolah yang diduga terpengaruh oleh peraturan yang dikeluarkan pada Mei 2020 oleh mantan Presiden AS Donald Trump, yang memblokir siswa dan cendekiawan China tertentu yang "menerapkan atau mendukung strategi Military-Civil Fusion (MCF) China."
"Sekolah dan jurusan saya akan terlalu sulit untuk mendapatkan visa AS," kata Sinan. Dia akhirnya memutuskan untuk beralih ke Eropa sebagai gantinya.
Menurut Sinan, sekitar 200 siswa yang terkena dampak peraturan Trump telah membentuk grup chat untuk membahas bagaimana melindungi hak-hak mereka.
Catherine, yang telah terdaftar di universitas Ivy League tetapi tidak bisa ke sana karena pembatasan perjalanan di AS.
Ia mengatakan para mahasiswa bersemangat tentang langkah baru-baru ini untuk mencabut pembatasan dalam grup obrolan online yang ia ikuti. Dia mengatakan bahwa beberapa dari mereka sebelumnya berencana pergi ke Thailand untuk mengajukan visa.
William Bistransky, penjabat konsul jenderal di Kedutaan Besar AS di China, mengatakan dalam konferensi pers 30 April bahwa kedutaan akan mempersiapkan pemrosesan visa bagi siswa setelah janji temu dibuka kembali secara resmi.
Pada tahun 2020, 382.000 siswa China belajar di AS, atau 31 persen dari total siswa luar negeri yang belajar di negara itu.
Sementara, data dari Association of International Educators menunjukkan, aktivitas ekonomi yang diciptakan oleh siswa internasional di AS turun sebesar 1,8 miliar AS pada tahun akademik 2019-2020 dari 40,5 miliar pada tahun sebelumnya.