Berita

Kerumunan orang di Pasar Tanah Abang, Jakarta./Net

Suluh

Kerumunan Tanah Abang Bukan Hanya Salah Anies Baswedan

SELASA, 04 MEI 2021 | 00:44 WIB | OLEH: AZAIRUS ADLU

Kerumunan orang yang terjadi di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat beberapa hari terakhir menjadi sorotan tajam publik.

Pasalnya, ditengah gelombang besar Covid-19 di India yang mengakibatkan fasilitas kesehatan di sana hampir lumpuh, masyarakat Indonesia seakan tidak mau peduli, dan tidak khawatir apa yang terjadi di India juga terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta.

Padahal, Jakarta sudah sejak pertama menjadi wilayah yang relatif tinggi penyebaran Covid-19 dibanding daerah lain di Indonesia.


Hal itu pun menjadi buah bibir di masyarakat, banyak sekali yang mengecam, hingga pada akhirnya, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta mendapat kritikan pedas karena dianggap lalai dan tidak dapat mendisiplinkan pedagang dan masyarakat di pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara itu.

Sebetulnya, apa yang terjadi di Tanah Abang bukan semata-mata karena kelalaian Pemprov DKI, dalam hal ini Anies sebagai gubernur.

Apa yang terjadi di Tanah Abang adalah hal lumrah, lazim terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat kita punya kebiasaan berbelanja busana baru saat mendekati hari raya, lantaran mendapat pemasukan tambahan berupa tunjangan hari raya (THR) dari tempat mereka bekerja.

Terlebih, budaya mengenakan busana baru saat lebaran sudah berlangsung sejak lama, mungkin sudah ada sejak republik ini berdiri.

Jadi kerumunan di Tanah Abang bukan hal baru, namun memang, hal itu seharusnya bisa dihindari karena saat ini Indonesia berada di masa pandemi.

Namun, kalau kita malu melihat lebih luas, apa yang terjadi di Tanah Abang mungkin saja sebetulnya terjadi karena dorongan dari pemerintah sendiri, yang tidak tegas dalam mengambil arah kebijakan di masa pandemi ini.

Misalnya, aktivitas publik dibatasi, anak sekolah belajar dari rumah, perkantoran diminta bekerja dari rumah masing-masing pegawai, mudik dilarang. Namun di sisi lain, istilah new normal, dan jargon pemulihan ekonomi nasional digembar-gemborkan.

Bahkan pemerintah mendorong agar masyatakat membelanjakan uang mereka agar roda perekonomian dapat bergerak yang ujungnya pertumbahan ekonomi bisa terkerek naik.

Hal ini tentu menjadi anomali di tengah masyarakat, mereka ini sebenarnya dibatasi atau diminta untuk berkegiatan ekonomi, karena bisa jadi terjemahan di masyarakat, lalu mengingat kurva Covid-19 sudah menurun menjadi alasan kuat bahwa kegiatan masyarakat sudah diperbolehkan, bukan dibatasi atau dilonggarkan.

Memang, ada saja oknum warna yang bandel, tidak mau patuh pada apa yang dicanangkan pemerintah, namun kalau memang sedari awal tegas, tentunya karakter masyarakat yang ngeyel ini bisa ditekan, diminimalisir, agar penyebaran Covid-19 bisa ditekan secara maksimal.

Tidak bisa serta merta menyerahkan seluruh porsi kesalah kepada Pemprov ataupun gubernunya, karena soal pandemi ini, pemerintah pusat, daerah, satuan tugas dan seluruh stakeholder terkait bertanggung jawab.

Seharusnya, sedari awal semuanya satu suara, satu pemahaman, agar publik tidak mengambil persepsi sendiri-sendiri.

Jangan sampai nanti gelombang besar Covid-19 di India terjadi juga di Indonesia. Hampir bisa dipastikan, fasilitas kesehatan kita belum kuat bila hal itu terjadi, ditambah disiplin masyarakat pun masih relatif rendah.

Jangan terlenan dengan kurva penyebaran Covid-19 yang sudah turun, pandemi ini belum berakhir, pemerintah pusat, daerah dan masyarakat harus senada dan seirama melihat bahwasanya memang virus ini belum selesai, mungkin saat ini sedang tidak beringas, namun kalau kita lengah fatal akibatnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya