Berita

Aksi unjuk rasa warga Myanmar menuntut pemerintah Jepang mengakui NUG/Net

Dunia

Hari Revolusi Global, Warga Myanmar Di Seluruh Dunia Minta Pengakuan Atas Pemerintah Bayangan

SENIN, 03 MEI 2021 | 11:51 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Warga Myanmar yang tinggal di berbagai negara  mulai turun ke jalan, melancarkan unjuk rasa, menuntut pemerintah setempat mengakui Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang didirikan untuk melawan pemerintahan junta.

Dari laporan Kyodo News, ribuan warga Myanmar di Jepang melancarkan aksi "Hari Revolusi Musim Semi Global Myanmar". Aksi yang sama juga digelar di Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara  Eropa lainnya.

Di Jepang, para pengunjuk rasa mewarnai tiga jari di kedua tangan mereka dengan warna merah, melambangkan darah 750 demonstran yang gugur oleh aparat  keamanan.


"Bebaskan bebaskan para pemimpin kami," teriak mereka, merujuk pada Aung San Suu Kyi yang telah ditahan sejak kudeta pada 1 Februari.

"Akui, akui NUG!" seru mereka.

"Kami, para pemuda Myanmar, memimpin dalam menggelar demonstrasi anti-junta di seluruh dunia hari ini. Kami ingin pemerintah Jepang mengambil tindakan khusus seperti menangguhkan semua proyek ODA (bantuan pembangunan resmi) yang menguntungkan militer Myanmar," ujar seorang penyelenggara aksi di Tokyo.

Lae Lae Lwin, seorang perawat Myanmar yang bekerja di Jepang, mengatakan tidak masuk akal bagi Jepang untuk tidak mendukung NUG sebagai pemerintahan yang sah karena Tokyo telah mengutuk kudeta tersebut dan mendesak junta untuk membebaskan Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya dan memulihkan proses politik demokratis Myanmar.

"Kami tidak ingin Jepang mengabaikan keinginan rakyat Myanmar. Kami ingin Jepang berpihak pada kami, bukan militer," tegasnya.

Pada 1 Februari, militer Myanmar menggulingkan pemerintah sipil dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun. Kudeta tersebut memicu protes massa dan disambut dengan kekerasan yang mematikan.

NUG sendiri dibentuk oleh anggota parlemen yang digulingkan bersama tokoh pro-demokrasi dan aktivis. Mereka menuntut agar junta segera menghentikan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa, membebaskan Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya, dan memulihkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya