Berita

Pidato perpisahan lepas gelar profesor pakar komunikasi politik Effendi Gazali dalam sebuah video yang diupload kanal Youtube Refly Harun/Repro

Politik

Effendi Gazali: Ketika Press Menuju Distorted Press.

KAMIS, 29 APRIL 2021 | 04:12 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Dalam pidato melepas gelar profesor yang disandangnya, pakar komunikasi politik Effendi Gazali menyoroti "prilaku menyimpang" sementara kalangan pers.

Untuk menggambarkan kondisi pers sekarang ini, khususnya di Indonesia, Effendi Gazali membuat satu istilah yang diramunya dari pencetus teori media massa (mass media) Dennis McQuail dan pendiri Kompas Media Group, almarhum Jakob Oetama.

Mulanya, dia menyatakan bahwa pers yang dalam bahasa Inggris Press sudah tidak memiliki kesesuaian makna, sehingga dirinya tercetus sebuah istilah baru yang disebut sebagai Dis-Press.


"Press sudah jadi Dis-Press. Ini sama dengan istilah order (teratur) menjadi dis-order. Kalau dibawa ke bahasa Inggris juga bagus. Dis-Press juga bisa berarti distorted press atau pers yang mengalami distorsi. Artinya mentality dan morality twisted. Sengaja diplintir," ujar Effendi Gazali dalam video berdurasi 30 menit yang diunggah kanal Youtube Refly Harun dan dikutip redaksi pada Kamis (29/4).

Effendi Gazali menegaskan, istilah Dis-Press yang dicetuskan ini tidak lahir begitu saja. Di dunia, fenomena dari istilah ini mawujud, dan menggila di negara-negara dengan pendidikan yang kurang baik.

"Utamanya karena mengedepankan kecepatan, saling berlomba upload, atau unggah berita lebih dulu. Akibatnya akurasi dan kode etik ditinggal jauh," sambungnya.

Di sisi lain, strategi click bait atau memakai judul sensasional yang semakin menggila, menurut Effendi Gazali menjadi satu bentuk dari Dis-Press itu sendiri. Padahal di sisi yang lain, hal itu merupakan cermin dari kemiskinan kreatifitas.

Dia mengungkapkan pandangan Profesor Dennis McQuail, pencipta grand theory mass communication, media performance, media responsibility, media accountability and audience analatycs, yang merasa khawatir dengan cara mengajarkan jurnalisme pada era media baru ini.

"Di sekolah-sekolah yang baik saja kita khawatir apalagi jika tidak demikian kualitas sekolahnya. Belum lagi kalau orang bisa mengaku sebagai bagian pers tanpa pendidikan yang baik," kata Effendi Gazali.

Selain itu, Effendi Gazali juga melihat perspektif tokoh pers nasional almarhum Jakob Oetama yang mencemaskan prinsip dampak (impact) dari pola pemberitaan media mainstream sekarang ini.

"(Jakob Oetama) sangat mencemaskan kekurangan huruf 'i' yang seharusnya ditambahkan pada prinsip 5W dan 1H. Beliau sangat khawatir kehilangan hurf 'i' singkatan dari 'impact', yaitu dampak yang dalam, yang menurut saya bisa berarti irresponsible yang tidak bisa ditarik kembali, apabila anda melakukan kesalahan akurasi apalagi yang disengaja, the damage has been done," tuturnya.

"Fenomena yang baru saya sampaikan di sini, Dis-Press atau yang sebetulnya sudah bukan pers lagi bisa pula terjadi, karena berbagai kerjasama dengan media, baik kerjasama dengan redaksi serta pengadaan buzzer yang massif," demikian Effendi Gazali.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya