Berita

Sidang perkara suap Bansos yang menjerat mantan Mensos Juliari Batubara/RMOL

Hukum

Di Hadapan Hakim, Pejabat Kemensos Tiba-tiba Cabut Pernyataan BAP Penyidikan Kasus Bansos

RABU, 28 APRIL 2021 | 14:35 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Seorang saksi yang dihadirkan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tiba-tiba mencabut keterangan di berita acara pemeriksaan (BAP) di proses penyidik di hadapan persidangan.

Saksi itu adalah Rosehan Ansyari yang hadir di ruang sidang perkara dugaan suap bantuan sosial (Bansos) sembako Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek di Kementerian Sosial (Kemensos) dengan terdakwa Juliari Peter Batubara selaku Menteri Sosial saat terjadinya perkara.

Rosehan yang saat ini menjabat sebagai Kasubdit pencegahan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kemensos ini tiba-tiba mencabut keterangan BAPnya.


Awalnya, tim JPU membacakan BAP Rosehan saat penyidikan di KPK nomor 11.

"Ini ada keterangan saksi BAP nomor 11. Jelaskan saudara apakah mengetahui masing-masing perusahaan yang menjadi penyedia barang dan jasa adalah perusahaan titipan dari orang lain atau yang dititipkan Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Jawaban saksi, bahwa informasi umum yang sudah berkembang saya informasikan bahwa kuota bagi perusahaan yang menyediakan barang jasa tersebut sudah ada yang memiliki bahkan tidak terafiliasi dengan perusahaan tersebut. Namun untuk kepastian siapa pemilik kuota masing-masing yang mengerjakan saya tidak mengetahuinya dan tidak dalam jangkauan saya untuk bisa mengetahui tersebut. Benar keterangan saksi?" tanya JPU kepada saksi Rosehan.

Akan tetapi, Rosehan mengaku tidak mengetahui keterangannya itu.

"Saya tidak tahu. Saya lupa udah itu pak. Saya tidak tau juga yang bagian itunya," jawab Rosehan.

JPU kembali membacakan ulang BAP saksi Rosehan nomor 11 tersebut. Tetapi, Rosehan kembali menjawab lupa terhadap keterangannya itu.

"Saya kurang paham itu pak. Tapi setahu saya memang setiap tahapan itu terutama tahap 7-12 kami hanya menerima saja dan sudah ada daftar nama itu," katanya.

Selanjutnya, JPU kembali membacakan BAP saksi Rosehan nomor 12. Pada BAP itu, saksi Rosehan mengatakan, mengetahui bahwa Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono pernah menerima dan mengumpulkan uang dari rekanan atau vendor penyedia barang jasa Covid-19 tahun 2020.

"Namun besaran berapa rupiah dari masing-masing vendor dan bagaimana cara menyerahkannya saya (Rosehan) tidak mengetahui. Benar keterangan saksi?" tanya JPU.

"Kalau rahasia umum iya pak, tapi kalau teknis dan apa saya tidak tahu," jawab Rosehan.

Mendengar jawaban saksi Rosehan, Hakim Ketua turun tangan dan geram karena jawaban Rosehan tidak sesuai dengan yang ada di BAP.

"Ini ditanyakan bagaimana keterangan saudara itu. Nomor 12 dibacakan Penuntut Umum. Apakah saudara mengetahui apakah ada pengumpulan dana tau?" tanya Hakim Ketua dan dijawab "tidak" oleh Rosehan.

"Kenapa saudara memberikan keterangan seperti ini di berita acara?" tanya Hakim Ketua menegaskan.

"Saya tidak tahu pak," jawab Rosehan.

Hakim Ketua pun mengingatkan saksi Rosehan bahwa saksi sudah disumpah sebelum memberikan keterangan di persidangan.

"Lalu kenapa ada keterangan seperti ini didalam berita acara penyidikan?" tanya Hakim Ketua.

"Saya tidak tau kalau ada kata-kata itu pak," jawab Rosehan.

Padahal, Rosehan mengaku menandatangani BAP di penyidikan. Bahkan, ia mengaku tidak adanya penekan, paksaan, ancaman maupun ditakut-takutin.

"Siap saya cabut pak. Tidak (ada paksaan dari penyidik KPK). Karena saya tidak tahu dan tidak pernah tau kalau ada pemungutan uang itu," tegas Rosehan.

Hakim Ketua pun kembali memastikan bahwa keterangan yang disampaikan Rosehan di penyidikan benar adanya.

"Iya Pak saya memberitahu keterangan seperti itu," kata Rosehan.

"Lalu kenapa saudara cabut saudara keterangan saudara ini sekarang?" kembali tanya Hakim Ketua.

Rosehan pun menyebut bahwa adanya perbedaan persepsi antara penyidik dengan dirinya.

"Ada persepsi yang berbeda antara penyidik dengan saya waktu itu menyampaikan bahwa penyidik menyampaikan begini ke saya, secara umum saja tahu kalau ada misalnya pemungutan dan sebagainya, rahasia umum, disampaikan seperti itu," jelas Rosehan.

Padahal kata Hakim Ketua, penyidik tidak ada menanyakan soal rahasia umum pada BAP nomor 12 tersebut.

"Saya tidak ingat yang itu pak. Kalau memang itu tejadi saya cabut bagian pernyataan itu," terang Rosehan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya