Para Senator Amerika Serikat (AS) mendesak pemerintahan Joe Biden untuk lebih keras terhadap junta Myanmar.
Senator, baik dari Demokrat maupun Republik, menyarankan Biden untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi untuk junta Mynamr, termasuk menargetkan perusahaan energi negara.
Usulan itu dipimpin oleh Senator Demokrat Jeff Merkley dan Marco Rubio dari Republi, serta empat senator lainnya.
Lewat sebuah surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Keuangan Janet Yellen pada Selasa (27/4), mereka mengatakan perlu adanya jalan baru untuk mendukung rakyat Myanmar mendapatkan demokrasi, khususnya di tengah meningkatnya kekerasan.
Salah satu usulan mereka adalah agar pemerintahan Biden menghentikan royalti dari perusahaan energi AS, Chevron Corp, ke Perusahaan Minyak dan Gas Myanmar (MOGE) yang dimiliki negara.
Dikutip dari
Reuters, MOGE diketahui telah memberikan dukungan keuangan kepada para pemimpin militer, termasuk Jenderal Min Aung Hlaing yang sudah berada di bawah sanksi AS.
MOGE adalah mitra di Yadana, ladang gas alam di mana Chevron memiliki 28,3 persen saham.
Kelompok HAM juga telah memberikan tekanan kepada Chevron dan Total untuk memutuskan hubungan dengan Myanmar setelah kudeta militer pada 1 Februari.
Pendapatan dari usaha patungan yang melibatkan perusahaan seperti Total dan Chevron adalah sumber pendapatan devisa tunggal paling signifikan bagi pemerintah Myanmar, yaitu hingga 1,1 miliar dolar AS per tahun.
Pada 1 Februari, junta Myanmar menggulingkan pemerintahan yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi dan memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.
Sejak itu, aparat keamanan diketahui telah banyak melakukan kekerasan. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menyebut lebih dari 750 orang tewas sejak kudeta terjadi.