Berita

Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto/Net

Politik

Tak Melulu APBN, Ini Yang Bisa Dilakukan Kemenhan Untuk Remajakan Alutsista

SENIN, 26 APRIL 2021 | 21:53 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Persoalan anggaran dalam sistem pertahanan negara kini disoal seiring tenggelamnya KRI Nanggala-402 dan menewaskan 53 awak kapal selam produksi Jerman tahun 1978.

Ekonom dari Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat mengatakan, persoalan minimnya anggaran Tentara Nasional Indonesia seharusnya bisa dicarikan solusi dengan memaksimalkan kinerja BUMN Pertahanan.

Sebab selama ini, ia menilai BUMN Pertahanan seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, PT Pindad, PT PAL dan PT Dahana kurang maksimal menarik investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


"Padahal bila holding BUMN Pertahanan bisa diimplementasikan cepat, peremajaan alutsista Indonesia akan lebih murah dan lebih cepat sehingga sistem pertahanan mandiri dan kuat dapat terwujud," kata Achmad Nur Hidayat, Senin (26/4).

Hidayat memandang, holding BUMN tersebut perlu dipercepat. Pelibatan multitalenta bangsa dalam BUMN tersebut pun perlu segera dilakukan, mulai dari para profesional, ahli keuangan, hingga berbagai profesi lain.

"Sebab selama ini pembentukan BUMN pertahanan terkesan hanya didominasi para veteran tentara dan mafia pertahanan yang rawan dengan konflik kepentingan," tambah Hidayat yang biasa disapa Matnoer.

Selain masalah kelembagaan, masalah keuangan pertahanan perlu dicarikan solusinya. Hidayat melihat solusinya ada pada pelibatan investor dalam negeri dan luar negeri untuk terlibat dalam modernisasi alutsista nasional.

Namun pelibatan investor tersebut perlu dengan kehati-hatian tidak perlu langsung ke BUMN Pertahanan namun melalui lembaga keuangan khusus seperti Lembaga Pengelola Investasi.

Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF) sudah diperkenalkan presiden sebagai stategi baru pembiayaan nasional. Pembiayaan nasional, kata dia, tidak hanya tergantung kepada APBN, bantuan, maupun pinjaman, tetapi juga akan memiliki satu instrumen yakni Indonesia Investment Authority (INA).

“Dalam rangka peremajaan alutsista yang mendesak, pemerintah dapat memberikan relaksasi bagi Holding BUMN pertahanan untuk masuk dalam prioritas pembiayaan oleh Indonesia Investment Authority (INA) daripada prioritas untuk infrastruktur ibukota baru yang dapat ditunda sampai pandemi selesai," tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya