Berita

Ilustrasi: WNA India/Net

Politik

Ambiguitas Aturan Mudik Dan Ketidaksiapan Pemerintah Hadapi Badai Covid Dari Negara Tetangga

SABTU, 24 APRIL 2021 | 14:22 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kebijakan penanganan dan pengendalian penyebaran Covid-19 yang dilakukan pemerintah kembali mengundang kritik dari publik.

Pasalnya, pemerintah mengeluarkan sejumlah keputusan yang dirasa bertentangan. Yakni, soal larangan mudik di satu sisi, dan pelonggaran Warga Negara Asing (WNA) masuk Indonesia di sisi yang lainnya.

Pakar kebijakan publik, Trubus Rahardiansyah menyampaikan kritikannya terkait keputusan pemerintah melarang mudik tapi memperbolehkan WNA dari India berkunjung ke dalam negeri, yang terjadi pada Rabu (21/4).


"Kalau menurut saya sih harusnya itu (WNA masuk Indonesia) dilarang sama sekali. Karena saling bertentangan kan? Ambigu jadinya. Idealnya seharusnya jelas begitu," ujar Trubus saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (24/4).

Justru menurut Trubus, dari kejadian masuknya WNA India ke Indonesia beberapa hari lalu itu mengindikasikan ada yang salah dari kesiapan pemerinta menghadapi gejolak penyebaran Covid-19 di negara tetangga.

Sebab selain India yang sudah masuk gelombang ketiga penyebaran Covid-19, Trubus juga mencatat Timor Leste, Papua Nugini, Kamboja, Filipina hingga Malaysia, juga tengah menghadapi lonjakan kasus yang cukup tinggi.

"Indonesia tengah berada di badai Covid. Rentan sekali itu," ungkap Trubus.

Maka dari itu, Trubus berharap pemerintah bisa memperbaiki pola koordinasi antar lembaga mulai sekarang ini, dengan berkaca pada kejadian masuknya WNA India menggunakan pesawat Air Asia kode penerbangan QZ-988, rute Kota Chennai, India menuju Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten dengan mengangkut 129 penumpang pada Rabu kemarin (21/4).

"Jadi maksud saya, gambaran ini seharusnya membuat pemerintah tegas. Pada akhir Desember sampai awal Januari kan kita sempat melarang WNA itu enggak boleh masuk. Sebenarnya bagus, kenapa itu dilonggarkan, padahal itu sudah ditetapkan," ucap Trubus.

"Makanya itu harus meningkatkan koordinasi kolaborasi. Kan itu semua ada di bawah Kementerian Hukum dan HAM untuk imigrasi, kemudian Kementerian Luar Negeri untuk urusan pasport dan sebagainya. Saya kira itu koordinasi antar kementerian harus dilakukan dari sekarang," pungkasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya