Berita

Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, Arief Poyuono/Net

Politik

Dorong Jokowi Lanjutkan Bansos Beras, Arief Poyuono: Bansos Tunai Banyak Dikorup

KAMIS, 15 APRIL 2021 | 18:49 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Program Bantuan Sosial Beras (BSB) sebanyak 15 kilogram per bulan per KPM (Keluarga Penerima Manfaat) telah selesai disalurkan pada medio Agustus-Oktober 2020.

Kini, progam BSB ini didorong untuk kembali dijalankan pemerintah untuk membantu masyarakat, khususnya yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebab, menurut Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono, program jaring pengaman sosial di masa Covid-19 yang efektif untuk menjaga harga beras di pasar dan tidak memberatkan masyarakat yang tidak masuk dalam kategori KPM PKH adalah program BSB.


Selain itu, program BSB juga memiliki dampak terhadap kehidupan petani di Indonesia. Di mana, lanjut Arief, saat program BSB dijalankan serapan gabah/beras petani oleh Bulog menjadi lebih meningkat. Khususnya indeks kehidupan petani dari sisi kesejahterannya.

"Hal ini bisa dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2020 mengalami kenaikan yang cukup tajam. Bahkan, angkanya mencapai 100,09 atau naik 0,49 persen jika dibanding dengan NTP sebelumnya. Kenaikan terjadi lantaran Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,47 persen," papar mantan Waketum Partai Gerindra ini, Kamis (15/4).

Selain itu, tambah Arief, NTUP (Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian) secara nasional juga mengalami kenaikan sebesar 100,53 atau 0,28 persen. Angka ini jauh lebih besar jika dibanding NTUP sebelum adanya program BSB oleh pemerintah  yang dilaksanakan oleh Bulog.

"Jadi Bansos Beras, selain memberikan efek peningkatan kesejahteraan bagi petani, juga memberikan dampak terhadap harga beras di pasar jauh lebih murah. Sehingga masyarakat di luar KPM PKH bisa menikmati juga," imbuhnya.

Karena itu, dalam pandangan Arief, mengubah program BSB menjadi program Bantuan Tunai oleh Kemensos justru akan menuai banyak persoalan di lapangan seperti pemotongan Dana Tunai.
Ujungnya, justru menyuburkan tindak pidana korupsi yang akhirnya merugikan 10 juta keluarga KPM PKH.

Dengan digantinya Bansos Beras sebanyak 15 kg dengan Bantuan Tunai, masih kata Arief, akhirnya membuat para KPM PKH hanya bisa membeli beras tidak sampai 15 kg. Karena harga beras di pasar lebih tinggi dari Bansos Beras.

"Karena itu Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mendesak Presiden Jokowi untuk membatalkan Bansos Tunai, diganti dengan Bansos Beras. Karena jauh lebih bermanfaat bagi KPM PKH," demikian Arief Poyuono.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya