Berita

Wakil Ketua DPD RI, Sultan Najamudin/Ist

Politik

Sultan Najamudin: Reshuffle Ujian Jokowi Memilah Kepentingan Publik Dan Politik

RABU, 14 APRIL 2021 | 15:12 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Presiden Joko Widodo diminta mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan me-reshuffle kabinet yang dikabarkan akan segera dilakukan seiring penggabungan Kemendikbud dan Kemenristek.

"Memang mesti ada penilaian terhadap kinerja serta capaian kabinet di bawahnya terhadap misi pembangunan dari Kepala Negara," kata Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/4).

Jika reshuflle ini benar dilaksanakan dalam waktu dekat, kata dia, maka kepentingan yang harus dijabarkan presiden adalah ruang dan porsi pembangunan yang ingin dicapai. Jadi, kata dia, semua landasannya harus berorientasi terhadap kemajuan kinerja seluruh lembaga pemerintahan.


"Ada dua hal yang harus diturunkan menjadi level indikator agar semua bisa benar-benar terukur. Pertama kinerja menteri dalam penguasaan di lembaga yang dipimpinnya. Yang kedua adalah dari segi akseptabilitas atau penerimaan publik terhadap para menteri dan beberapa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya," tegas Sultan.

Dalam kurun waktu dua tahun pemerintahan Jokowi di periode kedua ini, kata dia, ada beberapa sektor yang dirasakan memiliki perubahan secara signifikan.

"Khusus pembangunan di sektor ekonomi ada program Pemulihan Ekonomi Nasional dan penegakan hukum yang tidak tebang pilih," sambungnya.

Lebih lanjut, Sultan berharap kabinet yang dibentuk bisa bekerja melalui skema kebijakan yang dihasilkan untuk mengatasi situasi (kontraksi) ekonomi dalam tekanan pandemi, serta bagaimana kerja-kerja dari penegak hukum yang sudah menunjukkan taring dalam penanganan kasus-kasus besar.

Selain itu, menurut senator muda asal Bengkulu tersebut, reshuffle kali ini harus menjawab tantangan terkait pertimbangan politik. Di mana antara kepentingan publik dan kebutuhan stabilitas politik harus tercipta secara konvergensif, agar kabinet dapat menghimpun secara kolektif mengagregasi pembangunan di seluruh sektor.

"Posisi dilematis adalah ketika kepentingan publik vis a vis oleh kepentingan politik. Di sinilah ujian dalam sikap kenegarawanan. Presiden harus mampu memilah dan menemukan formulasi konstruksi yang dapat menciptakan kondusifitas iklim politik (baik eksekutif maupun legislatif) di dalam koalisi dan secara bersamaan tetap dalam orientasi kepentingan publik untuk meletakan orang yang benar di tempat yang tepat dalam fungsi menjalankan visi pembangunan negara," tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya