Berita

Pakar biomolekuler dari Universitas YARSI Ahmad Rusjan Utomo dalam program Bincang Sehat/RMOL

Kesehatan

Lebih Bahaya Mana, Mutasi Baru Virus Corona Atau Orang Yang Abai Protokol Kesehatan?

JUMAT, 09 APRIL 2021 | 16:34 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Varian serta mutasi baru virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19 mulai bermunculan di banyak negara beberapa waktu belakangan.

Di tanah air sendiri, baru-baru ini dikonfirmasi munculnya kasus varian B.1.1.7 dan yang terbaru adalah adanya kasus dengan mutasi E484K atau biasa disebut "Eek".

Lantas, sebenarnya mengapa virus corona bisa cepat bermutasi seperti saat ini?


"Dari mana sih varian itu muncul? Dari perilaku kita. Secara sadar atau tidak, dengan kita. tidak mematuhi protokol kesehatan, lepas masker, berkerumun, beraktivitas lama di ruangan tertutup dengan banyak orang, itu justru membuat virus mudah menular," kata pakar biomolekuler dari Universitas YARSI Ahmad Rusjan Utomo dalam program Bincang Sehat bertajuk "Mutasi Baru Penyebab Covid-19, Apa Yang Perlu Diketahui?" pada Jumat (9/4).

"Ketika si virus itu menular, maka kemungkinan dia akan menemukan apa yang disebut dengan korban ideal, itu lebih tinggi," sambungnya.

Siapa yang dimaksud dengan "korban ideal" itu?

"Itu adalah tema-teman kita sendiri, rekan, sahabat, keluarga yang imunnya tidak seimbang, contonya mereka yang immunocompromised (mereka dengan kelainan imunitas bawaaan)," terang Ahmad.

Jika virus masuk ke orang dengan kondisi semacam itu, maka virus tersebut akan "berpesta" karena masuk ke "korban ideal" yang tidak mampu melawan virus secara efektif. Dari sini lah, varian atau mutasi baru dari virus tersebut bisa terjadi.

"Karena tidak ada perlawanan dari sistem imun, misalnya, maka dia (virus) menemukan korban yang tepat di mana dia akan berevolusi," jelasnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu panik akan munculnya banyak varian serta mutasi baru dari virus corona. Pasalnya, virus tersebut masih merupakan virus yang sama, yakni SARS-Cov-2, sehingga cara mencegahnya juga masih sama, yakni menjalankan protokol kesehatan dengan tepat dan konsisten.

"Saya lebih takut pada manusia sekitar yang tidak melakukan protokol kesehatan dengan baik daripada mutasi baru," selorohnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya