Berita

Menhan Prabowo saat bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae In di Korea Selatan/Ist

Dunia

Kunjungan Prabowo Ke Korsel, Sinyal Kuat Keseriusan Indonesia Lanjutkan Proyek K-FX/I-FX

JUMAT, 09 APRIL 2021 | 13:22 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke pabrik Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon, Provinsi Gyeongsang, Korea Selatan, hari ini (Jumat, 9/4), sangat vital bagi kelanjutan proyek pembuatan pesawat tempur K-FX/I-FX. 

Apalagi dalam kunjungan ke Korea Selatan itu, selain bertemu dengan mitranya, Menhan Korsel Suh Woo, Prabowo juga bertemu dengan Presiden Korsel Moon Jaein di Cheong Wa Dae atau Blue House pada Kamis kemarin (8/4).

“Penting bagi Indonesia untuk menempatkan diri sebagai salah satu negara pembuat pesawat tempur. Ini akan memberikan sinyal kuat kepada dunia internasional bahwa sebagai salah satu negara kunci di dunia, Indonesia sangat serius menjaga kedaulatan,” ujar pemerhati hubungan internasional dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, dalam keterangan di Jakarta, Jumat (9/4).


Sejak periode kedua pemerintahan Joko Widodo, Indonesia rasanya tidak begitu antusias melanjutkan proyek yang dimulai di era Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) itu. 

Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Presiden Moon Jaein di Busan, bulan Desember 2019, misalnya, tidak menyentuh proyek strategis ini. Sejak tahun lalu pula Indonesia justru lebih sering membicarakan rencana pembelian pesawat tempur dari negara lain.

Selain itu, bersamaan dengan pandemi Covid-19, tahun lalu Indonesia memanggil pulang semua insinyur PT Dirgantara Indonesia yang ditugaskan untuk ikut membangun K-FX/I-FX di fasilitas KAI di Sacheon. 

“Sikap Indonesia belakangan ini membuat Korea Selatan ragu-ragu pada komitmen Indonesia melanjutkan proyek K-FX/I-FX . Apalagi, Indonesia lebih sering membicarakan rencana pembelian pesawat-pesawat tempur bekas dari beberapa negara,” kata pengampu mata kuliah politik Asia Timur di UIN Jakarta ini.

Teguh menambahkan, dalam pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Moon di Seoul bulan September 2018, kedua negara sepakat merenegosiasi term and condition yang lebih spesifik mengenai proyek ini. Terutama mengenai cost sharing, payment schedule, intellectual property rights, dan transfer of technology.

Sementara dalam kesepakatan yang ditandatangani tahun  2015, disebutkan bahwa Indonesia akan  menanggung 20 persen biaya pembuatan jet tempur generasi 4,5 ini.

“Sempat ada wacana dari Indonesia untuk mengundurkan penyelesaian proyek dari tahun 2026 menjadi 2030, tetapi pihak Korea Selatan keberatan karena akan berdampak besar pada komitmen-komitmen lain,” ujar mantan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang pernah membawa delegasi PWI ke pabrik pesawat tempur Korea Selatan itu dan berdialog dengan insinyur-insyur Indonesia yang bekerja di sana. 

“Nama Indonesia akan buruk di mata dunia internasional bila meninggalkan atau membatalkan perjanjian secara sepihak begitu saja. (Bila itu terjadi) di masa depan negara-negara sahabat yang lain akan ragu untuk menjalin kesepakatan dengan Indonesia karena khawatir Indonesia tidak menuntaskan komitmen,” demikian Teguh Santosa yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI). 

Harapan Presiden Moon

Dalam pertemuan dengan Prabowo Subianto di Blue House kemarin (8/4), Presiden Moon Jaein mengatakan bahwa proyek prestisius itu adalah simbol tingkat kepercayaan dan kerjasama kedua negara yang sejak tahun 2017 lalu telah meningkatkan level hubungan menjadi special strategic partnership.

Presiden Moon menggambarkan kunjungan Prabowo sebagai wujud komitmen kuat Indonesia untuk melanjutkan kerjasama industri pertahanan dengan Korea Selatan. Indonesia adalah satu-satunya mitra asing dalam proyek ini.

Presiden Moon juga menyampaikan harapan agar kedua negara dapat memproduksi KF-X/IF-X secara massal, mentransfer teknologi, dan memasuki pasar luar negeri bersama.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya