Berita

Diskusi virtual Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta bertema 'Lawan Terorisme, Perkokoh Persatuan Nasional'/Repro

Politik

Aktivis Mahasiswa Dorong Pemerintah Sinergis Bendung Radikalisme Di Kalangan Milenial

KAMIS, 08 APRIL 2021 | 16:56 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Isu radikalisme dan terorisme nyata dan bukan hal yang dibuat-buat oleh pihak mana pun. Pelaku terorisme ini berupaya memecah belah bangsa.

Demikian ditegaskan Kordinator Wilayah 3 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Andreas Simanjuntak dalam diskusi virtual bertema 'Lawan Terorisme, Perkokoh Persatuan Nasional' yang digelar kelompok aktivis mahasisa dalam Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta, Kamis (8/4).

Andreas menambahkan, kaum muda usia 18 tahun sampai 23 tahun menjadi kelompok yang rentan direkrut sebagai pelaku teror dikarenakan adanya pemahaman ajaran agama yang keliru dan seringkali disalahtafsirkan. Termasuk kurangnya pemahaman ideologi Pancasila.


"Kalau kita berkaca pada sejumlah penelitian, ditemukan kecenderungan bahwa anak muda usia 18 tahun sampai 23 tahun rentan terpapar paham radikalisme yang berujung pada terorisme," kata Andreas.

Dalam diskusi yang sama, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam HMI Jakarta Pusat-Utara, Lalu Ahmad Husein memaparkan bahwa fenomena terorisme bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga dunia internasional. Oleh karenanya, ia menekankan perlunya upaya pemerintah untuk lebih masif menekan potensi-potensi terjadinya terorisme.

"Saya kira ke depan pemerintah perlu memperketat peredaran bahan peledak agar tidak disalahgunakan. Dan saya juga mau tegaskan, dalam Islam yang saya yakini, tidak ada satu pun dalil yang membenarkan hal tersebut," ungkapnya.

Ketua Umum PMII Jakarta Pusat, Poni Dwi Setiadi menambahkan, konsep terorisme, intoleransi, dan radikalisme tidak dapat diterima oleh belahan dunia manapun.

Ia juga berharap lembaga terkait bisa berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan untuk merumuskan metodologi yang efektif guna membendung penyebaran paham tersebut.

"Kami menantang pemerintah,Polri dan TNI serta pihak terkait untuk bersinergi dan berkolaborasi, merumuskan sebuah metodologi yang tepat dan efektif guna membendung penyebaran paham radikalisme, terorisme, dan intoleransi," ujarnya.

Diskusi virtual tersebut dihadiri sejumlah aktivis mahasiswa. Selain dihadiri GMKI, PMII, dan HMI, turut hadir pula Ketua Umum Bakerda Gmni DKI Jakarta, Edgar Joshua; Ketua Umum PMKRI Jakarta Pusat, Christo Maria Sultan; serta Ketua GPII Jakarta Selatan, Rivaldi.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya