Berita

Presiden Joko Widodo dan kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko/Net

Politik

Terlalu Jauh Menafsirkan Manuver Moeldoko Dibekingi Jokowi, Kalau Restu Mungkin Saja

RABU, 07 APRIL 2021 | 20:42 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sangat sulit bila manuver politik Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko terhadap Partai Demokrat dianggap terjadi karena ada campur tangan aktif dari Presiden Joko Widodo demi kepentingan pribadi.

"Terlalu jauh menafsirkan presiden lakukan intervensi aktif atas kisruh Demokrat, kalau Jokowi dianggap merestui tindakan Moeldoko masih mungkin," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Rabu (7/4).

Pengamat politik jebolan Universitas Telkom ini mengamini bila sejauh ini pihak istana belum menindak tegas Moeldoko. Padahal, jabatan mantan Panglima TNI sebagai KSP itu jelas-jelas berada di komplek Istana Negara.


Terlebih, belum adanya tindakan presiden berbeda dengan sikap Menkumham Yasonna Laolly yang secara tegas menolak pengesahan permohonan Kongres Luar Biasa (KLB).

"Faktanya Moeldoko tetap berada di Istana hingga saat ini?" pungkasnya.

Di sisi lain, pemerhati politik, M Rizal Fadillah menduga ada kesepakatan antara Jokowi dan AHY atau SBY di balik kisruh Demokrat. Antara lain bisa saja untuk pilpres maupun pilkada.

"Tidak tertutup kemungkinan AHY atau SBY memiliki 'deal' tertentu dengan Jokowi apakah soal pilpres atau pilkada ke depan, atau kebijakan perundang-undangan tertentu yang telah masuk prolegnas," ujar dia kepada Kantor Berita Politik RMOL.

"Moeldoko bisa diabaikan untuk kepentingan Jokowi yang lebih besar. Termasuk kepentingan nasib masa depan Gibran (Gibran Rakabuming Raka, anak Jokowi)," sambung Rizal.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya