Berita

Mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman (tengah)/Ist

Politik

Kata Ken, Munarman Sedang Cari Simpati Hidupkan FPI Lewat Demokrat

SABTU, 27 MARET 2021 | 00:51 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Pernyataan mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman yang siap membela secara hukum Partai Demokrat bila diminta oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ditanggapi sinis oleh pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan.

Menurut Ken, pernyataan Munarman yang akan membela Demokrat kubu AHY adalah bentuk FPI mencari simpati karena statusnya sebagai organisasi yang sudah dilarang negara.

"Pernyataan Munarman tersebut lantaran ada kecenderungan pemerintahan sebelumnya menerima dengan kehadiran FPI," kata Ken dalam diskusi 'FPI Mencari Inang Baru' yang ditayangkan di Channel Youtube CokroTV, Jumat (26/3).


Oleh karena itu, lanjut Ken, Munarman tengah mencari dukungan untuk menghidupkan lagi FPI yang resmi dibubarkan pada 20 Desember 2020 lalu. Salah satunya dengan mencoba merapat ke Demokrat.

Agar tidak terjadi kebangkitan FPI, Ken menilai pembubaran FPI secara organisasi tidak cukup. Apalagi dia melihat, ideologi FPI masih bisa hidup di tengah-tengah masyarakat.

Senada dengan Ken, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid setuju FPI dikategorikan sebagai organisasi radikal.

Hal ini, menurut Ahmad, sesuai dengan pengertian radikalisme yang merupakan suatu paham yang mengingingkan perubahan tatanan politik sosial yang sudah mapan dengan cara ekstrem atau kekerasan.

"Ideologi FPI sangat jelas. Bahkan Habib Rizieq jelas-jelas mendukung gerakan the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Selain itu, beberapa oknum FPI pernah ditangkap Densus 88 terkait kasus terorisme," jelas Ahmad seperti diberitakan Kantor Berita RMOLJakarta.

Ahmad kembali menerangkan, terorisme tidak bisa lepas dari radikalisme. Jika terorisme itu hilirnya, maka radikalisme itu merupakan hulunya. Artinya, semua teroris itu berpaham radikal, tapi tidak semua radikalisme akan jadi teroris.

Di sisi lain, lanjut Ahmad, radikalisme itu muncul juga karena politisasi agama. "Seperti FPI. Framingnya adalah anti pemerintahan. Padahal ini adalah gerakan politik yang memframing agama, atau bisa dikatakan manipulator agama," demikian Ahmad.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya