Berita

Serikat Nelayan NU tolak impor garam/RMOLJateng

Politik

Tolak Impor Garam, Serikat Nelayan NU: Kami Jadi Objek Politik Tapi Termarjinalkan Soal Ekonomi

RABU, 24 MARET 2021 | 20:39 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Rencana pemerintah yang akan meningkatkan impor komoditas garam sebesar 3,07 ton pada 2021 mendapat penolakan dari Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU).

"Sesuai RPJMN, pada tahun 2021, produksi garam nasional adalah 3 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional berkisar pada angka 4 juta ton. Jika kita impor 3 juta ton lalu petani mau makan apa? Anak-anak mereka mau sekolah pakai apa?" tegas Ketua Umum SNNU Witjaksono diberitakan Kantor Berita RMOLJateng, Rabu (24/3).

Menurut Witjaksono, jika impor dibiarkan, maka petani adalah pihak yang dirugikan dan lahan garam termasuk petani akan alih fungsi.


Lebih lanjut ia menjelaskan, para petani garam di Indramayu, Cirebon, Jawa Barat, Jawa Timur dan dari Nusa Tenggara Timur resah dengan rencana impor. Mereka juga takut produksi garam mereka tidak terserap pasar.

"Bahkan, harga di tingkat petani mencapai Rp 100-300 per kilogramnya. Kondisi itu jelas sangat meresahkan, apalagi daerah-daerah ini memproduksi lebih dari separuh produksi garam nasional," ujarnya.

Menurut perhitungan SNNU yang melibatkan 28 pengurus wilayah dan 355 cabang di seluruh  Indonesia, maka seharusnya pada tahun ini impor tidak lebih dari 1 juta ton. Sebab stok di petani cukup banyak.

Dijelaskan, jumlah warga Nahdliyin setidakya 110 juta, dimana hanya sekitar 10 % yang tingal di perkotaan, sisanya tinggal di pedesaan, pegunungan dan pesisir. Setidaknya ada 40-60 juta masyarakat Nahdliyin yang tinggal di pesisir, berprofesi sebagai nelayan, pekerja dan pelaku usaha kelautan dan perikanan.

"Selama ini masyarakat kecil, terutama warga Nahdliyin hanya didjadikan sebagai objek di dalam perpolitikan nasional dan selalu termarjinalkan tatkala bicara perekonomian nasional. Politisi hanya hadir di kala Pemilu dan para pengusaha hanya menjadikan masyarakat sebagai objek sasaran pasar mereka," keluhnya.  

Seharusnya, pemerintah turut membantu masyakat agar lebih berpihak pada masyarakat kecil dengan menjadikan mereka sebagai pelaku usaha yang terkoordinir secara korporasi maupun koperasi sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Jika permasalahannya ada pada harga yang lebih mahal daripada impor, maka pemerintah perlu turun langsung, berantas para mafia garam atau tengkulak nakal. Lakukan operasi pasar, subsidi bisa juga menjadi opsi.  

Data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik, pada 2020 impor naik drastis setelah pertengahan tahun, tepatnya bulan Agustus. Dalam kurs rupiah ke dolar AS Rp 14.000, maka harga pembelian dari luar negeri berkisar di atas Rp 1.000, dari China mencapai Rp 1.500 per kg, sedangkan hari ini harga di petani Indonesia Rp 100-300 per kg.

Oleh karenanya, SNNU mendesak pemerinah segera menetapkan Standar Harga Garam Nasional minimal Rp 700-1000 per kg. Pemerinah juga didesak  berhenti melakukan impor garam dalam target dua tahun sejak hari ini atau maksimal pada bulan Agustus tahun 2023.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya