Berita

Direktur Eksekutif Indobarometer, M Qodari, dalam diskusi virtual Ngobrol Bareng Bang Ruslan bertajuk 'Islah PPP: Konsolidasi Partai Islam', yang disarkan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (16/3)/RMOL

Politik

PPP Berhasil Islah, Qodari: Kepengurusan Sekarang Memang Its Now For Never

SELASA, 16 MARET 2021 | 18:15 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Episode dualisme Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang telah berakhir usai penyelenggaraan Rapimnas 2021 kemarin membuat kagum pengamat politik M Qodari.

Direktur Eksekutif Indobarometer ini mengaku tidak mengira PPP yang mengalami konflik berkepanjangan sejak 2014 antara Kubu Djan Faridz dan Humprey Djemat bisa berdamai.

"Jadi memang kepengurusan sekarang ini kalau boleh meminjam istilah Pak Amien Rais its now for never," ujar Qodari dalam diskusi virtual Ngobrol Bareng Bang Ruslan bertajuk 'Islah PPP: Konsolidasi Partai Islam', yang disiarkan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (16/3).


Selain berhasil menyelesaikan konflik perpecahan, Qodari menilai kepengurusan Suharso Manoarfa berhasil meloloskan PPP ke pemilihan legislatif.

Pasalnya, dia melihat partai berlambang Ka'bah ini mengalami masalah yang bertubi-tubi sejak 2014. Yakni, masalah hukum yang mengharuskan Ketua Umumnya saat itu, Suryadharma Ali, harus dicokok KPK karena tersangkut korupsi penyelenggaraan haji.

Selain itu, PPP kembali dihantam kasus korupsi ketua umumnya untuk periode 2014-2019, Romahurmuziy alias Rommy, terkait kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag).

Kata Qodari, karena dua masalah hukum tersebut PPP mengalami penurunan perolehan suara, meskipun sudah terjadi sejak tahun 2004.

Di mana, pada tahun 1999 PPP pernah memperoleh kursi di DPR sebesar 10 persen, kemudian 2004 turun menjadi 8,15 persen, 2009 turun menjadi 5,33 persen, 2014 rebound sedikit 6,53 persen dan 2019 turun lagi menjadi 4,52 persen.

"Yang jelas kalau secara kursi ini (tahun 2019) memang yang paling rendah, dan secara suara memang yang paling rendah," beber Qodari.

Kendati begitu, Qodari berpandangan keengurusan partai berhasil keluar dari masa-masa tersulitnya, yang khususnya jika melihat dari sejarahnya sudah sejak lama PPP mengalami masalah konflik internal yang dimulai pada era orde baru.

"Jadi sebenarnya kepengurusan hari ini adalah mati hidupnya PPP menuju 2024 mendatang," demikian Qodari menambahkan.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Pelita Air Libatkan UMKM Binaan Pertamina dalam PAS Sky Shop

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59

Seluruh SPPG Wajib Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Minggu

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50

19 Juta Tenaga Kerja dan Upsysteming UMKM

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25

Jokowi dan Pratikno Dituding Bungkam UI Lewat PP 75/2021

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59

Polisi Ringkus 25 Pelaku Curanmor di Bekasi

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45

Film Dokumenter “Pesta Babi” Jangan Memperkeruh Keadaan di Papua

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23

Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan!

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57

Polda Jambi Bongkar Peredaran Sabu dan "Vape Yakuza" Senilai Rp25,9 Miliar

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38

Dishub kota Semarang Gencarkan Sosialisasi ke Bus AKAP

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19

Grace Natalie: Saya Nggak Pernah Punya Masalah dengan Pak JK

Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57

Selengkapnya