Berita

Presiden RI ke-7, masa bakti 2019-2014 Joko Widodo/Net

Politik

Arief Poyuono: Indonesia Memang Cocoknya Dipimpin Presiden Lebih Dari Dua Periode

SENIN, 15 MARET 2021 | 12:07 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Eks Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono berpandangan, bahwa Indonesia dinilai lebih cocok dipimpin oleh Presiden dengan masa jabatan lebih dari dua periode.

Menurut Arief, rakyat Indonesia sebetulnya telah terbiasa dengan jabatan Presiden lebih dari dua periode atau 10 tahun.

“Base on (berdasarkan) sejarah, masyarakat Indonesia itu sudah terbiasa dipimpin oleh Presiden dengan masa jabatan lebih dari dua periode. Atau mirip sistem monarki. Sepanjang sang raja dan keluarganya dan antek-antek tidak membuat rakyat susah maka rakyat tidak akan berontak atau ingin ganti raja,” kata Arief kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (15/3).


Arief mengungkap, pembatasan jabatan Presiden hanya dua periode ini, lantaran pada saat itu Amien Rais mengadopsi konstitusi milik negara Amerika Serikat. Padahal, kata Arief, landscape Amerika dan Indonesia sangat jauh berbeda, baik dari sisi masyarakat dan sistem kepartaiannya.

“Akhirnya pembatasan jabatan Presiden untuk dua periode tidak cocok diterapkan di Indonesia malah akhirnya membuat pemerintahan yang dibentuk dari pemilu tidak efektif, dan berdampak pada lambatnya pembangunan di Indonesia,” sesal Arief.

Efeknya, lantaran Presiden hanya dua periode membuat kinerjanya tak maksimal sebab Presiden hanya sibuk politik dagang kerbau, karena mengurus partai-partai politik yang mengusungnya menjadi Presiden.

“Dan akhirnya menyuburkan korupsi di pemerintahan,” tandas Arief.

Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Warna Institute ini menambahkan, dari catatannya, sejak Indonesia masuk dalam era reformasi dan demokratisasi dengan jabatan Presiden dua periode, justru menambah jumlah utang Indonesia.

“Utang Indonesia makin numpuk dibandingkan dengan era Soekarno dan Soeharto loh. Dan tidak sebanding dengan kemajuan masyarakatnya,” demikian Arief Poyuono.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya