Berita

Aksi demo di Belarusia/Net

Dunia

Pengamat: Selain Krisis Politik Belarusia Akan Dihadang Oleh Krisis Ekonomi

SABTU, 06 MARET 2021 | 07:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebagai satu-satunya sekutu yang setia, Rusia bisa saja merasa jenuh dengan situasi yang terjad di Belarusia. Aksi protes yang panjang dan semakin meningkat dengan puluhan ribu orang turun ke jalan secara terus menerus, telah membawa negara itu ke dalam krisis politik dan ekonomi.

Benno Zogg, peneliti di Center for Security Studies di lembaga teknologi federal ETH Zurich, mengatakan pada saatnya Rusia bisa saja menjauhi Belarusia. Saat ini ada tiga jalur potensial untuk Belarusia selama lima tahun ke depan.

"Saya melihat tiga jalur atau skenario dalam situasi saat ini, yaitu revolusi, kediktatoran, atau fase transisi terkelola, dari otokrasi saat ini ke pembagian kekuasaan yang lebih pluralistik," kata Zogg seperti dikutip dari SwissInfo, Jumat (5/3).


"Sebuah revolusi dapat memenuhi tuntutan utama pengunjuk rasa - yang akan mengakibatkan Lukashenko diusir dari jabatannya. Sebuah revolusi juga dapat memiliki dua kemungkinan hasil, apakah pasukan keamanan menang atau pengunjuk rasa membentuk pemerintahan koalisi. Dari sudut pandang Swiss, varian terakhir lebih disukai," katanya.

Sementara kediktatoran juga sedang terjadi sekarang dan semakin intensif. Dalam beberapa bulan terakhir, rezim telah meningkatkan kekerasan, penangkapan sewenang-wenang, dan penyiksaan. Situasi ini bisa menjadi lebih buruk jika protes jalanan kembali meledak. Kremlin, yang mendukung Lukashenko, berisiko menjadi sekutu utama dari rezim yang menembak warganya sendiri, sesuatu yang sangat tidak ideal dari sudut pandang Rusia.

"Kemudian kita sampai pada skenario ketiga, yang akan melibatkan negosiasi tatanan politik baru di dalam elit Belarusia. Perubahan konstitusional semacam itu - yang diisyaratkan oleh Lukashenko - akan menghasilkan lebih banyak aktor dan partai politik dari kemahakuasaan Lukashenko. Kita mungkin tidak akan melihat rezim demokrasi dalam waktu lima tahun, melainkan  rezim yang agak lebih pluralistik," kata Zogg.

Kremlin terus memantau jatuhnya popularitas Lukashenko. Dalam jangka panjang, Rusia tidak ingin tetap menggantungkan harapannya pada Belarusia, melainkan pada berbagai kekuatan politik yang dapat dipengaruhi.

Apakah itu berarti Rusia akan ikut menjatuhkan Lukashenko, Zogg menegaskan tidak secepat itu.

"Rusia tetap bertaruh pada Lukashenko untuk saat ini, dan saya tidak berpikir mereka akan menjatuhkannya secara tiba-tiba. Perubahan keseimbangan kekuatan yang tiba-tiba akan menyebabkan ketidakstabilan di Belarusia," kata Zogg.

Sementara, untuk saat ini Kremlin sendiri tengah dihadang berbagai persoalan di dalam negerinya, salah satunya tentang  Alexei Navalny. Untuk itu Kremlin ingin menghentikan penyebaran kerusuhan di negara-negara tetangga.

Dalam hal ekonomi, Belarusia mengalami stagnasi sebelum pandemi. Dengan krisis politik saat ini, semakin sulit bagi negara itu untuk menarik investasi. Ditambah lagi banyak tenaga terampil, terutama dari industri IT, telah meninggalkan tanah air dan mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain.

Dalam beberapa tahun mendatang Belarus akan menghadapi kesulitan ekonomi, hutang akan membengkak, inflasi dapat meningkat dan penduduk akan menderita, menurut Zogg.

"Anda sudah bisa merasakan pendapatan turun secara riil. Selain krisis politik akan terjadi krisis ekonomi di Belarusia," tutup Zogg.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

APKLI Perjuangan Ajak Publik Siap Hadapi Bonus Demografi 2030

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:26

Fahira Idris Apresiasi RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Desember

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:10

Pernyataan Budi Arie Tak Harus Menjadi Polemik

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:54

BPOM Gratiskan Izin Edar UMK Pangan Olahan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:30

PP KMHDI Tuntut Presiden Evaluasi Kemenhut, Kemendikdasmen, dan Bakom

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:15

Menavigasi Turbulent Ocean, Menjinakkan Rivalitas Great Powers, dan Mematahkan Clash of Civilizations di Era Presiden SBY

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:00

Ketum Gibranku: Relawan Solid Kawal Prabowo-Gibran hingga 2029

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:59

Dua Tahun Warga Tegal Alur Pakai Jembatan Bambu, Dinas SDA Kena Semprot

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:42

Menguji Relevansi Teladan Rasulullah di Tengah Krisis Etika Global

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:40

Berbincang dengan Habib Rizieq

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:20

Selengkapnya