Berita

Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) M. Said Didu/Net

Politik

Ketahanan Pangan Kalah Dari Ethiopia, Said Didu Ingin Program Cetak Sawah Dan Pembagian Alsintan Diaudit

SELASA, 23 FEBRUARI 2021 | 10:30 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ketahanan pangan Indonesia yang rendah tidak boleh dianggap sepele. Apalagi posisi Indonesia berada di bawah negara yang sempat mengalami krisis pangan akut seperti Ethiopia dan Zimbabwe.

Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) M. Said Didu menilai bahwa fakta tersebut menunjukkan sesuatu yang aneh yang harus disikapi bersama. Sebab di periode pertama Jokowi, pemerintah gencar membagikan alat mesin pertanian (alsintan) dan program cetak sawah.

“Fakta bahwa ketahanan pangan kita di bawah Zimbabwe dan Ethiopia dan produksi padi tidak naik, padahal 2015-2019 marak program cetak sawah baru dan pembagian alsintan,” tegasnya dalam akun Twitter pribadi, Selasa (23/2).


Singkatnya, Said Didu ingin mengatakan bahwa program tersebut telah gagal. Di satu sisi, program pembagian alsintan dan cetak sawah juga perlu ditelusuri apa penyebab hingga tidak efektif menggenjot ketahanan pangan Indonesia.

“Artinya program tersebut tidak menaikkan produksi. Berharap agar 2 program tersebut diaudit secara rinci,” tutupnya.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyatakan bahwa sejumlah indikator pangan dunia menunjukkan Indonesia tertinggal daripada negara lainnya dalam lima tahun terakhir.

Indonesia yang notabene adalah negara agraris justru menempati peringkat rendah dari Ethiopia dalam hal indeks keberlanjutan pangan.

“Dulu kita tahu Ethiopia itu adalah negara yang identik dengan kelaparan. Ternyata punya ranking lebih bagus untuk food sustainability index dibanding kita. Zimbabwe dan Ethiopia jauh di atas Indonesia," kata Arif Satria dalam diskusi bertajuk 'Daya Tahan Sektor Pertanian: Realita Atau Fatamorgana?' Rabu lalu (17/2).

Food Sustainability Index menempatkan Indonesia sebagai negara ke-60. Peringkat Indonesia ini masih kalah jauh dengan Zimbabwe peringkat 31 dan Ethiopia peringkat 27.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya