Berita

Penjara Guantanamo/Net

Histoire

Riwayat Teluk Guantanamo, Dipinjam AS Dari Kuba Sejak 1903 Dan Dijadikan Penjara

SELASA, 23 FEBRUARI 2021 | 06:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kabar akan ditutupnya Penjara Guantanamo oleh Presiden Joe Biden belakangan ini, mengingatkan kembali sejarah sebenarnya tentang sebuah teluk bernama Guantanamo pada lebih dari 10 dekade lalu. Teluk yang dikuasai Amerika Serikat sejak Februari 1903 itu, menyimpan banyak kisah kelam dan rumit

Teluk Guantanamo terletak di Provinsi Guantanamo, Kuba barat, sekitar 500 mil di lepas pantai Florida. Meskipun selama lebih dari seratus tahun berada di bawah kuasa AS, teluk itu sesungguhnya adalah milik Kuba.

Kuba mengijinkan AS menyewa teluk itu di bawah Perjanjian Kuba-Amerika pada Februari 1903, untuk mendirikan pangkalan militer, seperti dikutip dari Bridge dari Georgetown University. Itu terjadi  setelah Perang Spanyol-Amerika tahun 1898.


Pada 1934, Pemerintah Kuba memperbaharui perjanjian sewa tersebut menjadi 'sewa tak terbatas'. Perjanjian imi terikat penuh dan tidak bisa diubah kecuali kedua belah pihak sama-sama setuju untuk menyudahinya. Dalam pembaharuan perjanjian disebutkan juga bahwa Kuba sebagai penyedia pasokan ke basis pangkalan Angkatan Laut AS itu.

Namun, pada 1964 di bawah pemerintahan Fidel Castro, Kuba menyatakan bahwa perjanjian Guantanamo adalah paksaan. Kuba tidak lagi mengakui bahwa syarat-syarat perjanjian itu sah. Karena hanya pihak Kuba yang mengklaim hal itu dan pihak AS tetap pada kesepakatan, maka perjanjian tersebut tetap berjalan. Membuat Kuba gerah dan membiarkan pejabat militer di pangkalan itu mencari sendiri kebutuhan air dan jaringan listrik.

Status hukum yang tidak pasti ini adalah salah satu alasan Teluk Guantanamo dipilih sebagai lokasi 'pembuangan'.

Teluk Guantanamo dijadikan tempat untuk para pengungsi Haiti pada saat terjadi kudeta 1991. Lalu menjadi tempat untuk menampung pengungsi dan imigran gelap yang ditangkap di laut lepas pada 1996.
Ketika itu ada 120 migran China yang berusaha menyusup ke AS melalui laut. Juga ada migran gelap dari Guyana.

Pangkalan milier itu kemudian mengalami perubahan. Pada 2002, AS secara bertahap mendirikan bangunan penjara menyusul peristiwa serangan 11 September 2001. Bangunan itu untuk menahan anggota kelompok militan serta tersangka terorisme yang ditangkap oleh pasukan AS di Afghanistan dan Irak.

Kelompok hak asasi manusia mulai menyoroti keberadaan penjara di pangkalan milier di Teluk Guantamo tu dan mencium adanya pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini kemudian diperkuat oleh dokumen militer menunjukkan bahwa penggunaan beberapa teknik yang umum dianggap penyiksaan - seperti berdiri secara paksa, kurang tidur, suara keras, dan waterboarding - mungkin telah digunakan di fasilitas Guantanamo.

Penjara Guantanamo terdiri dari beberapa kamp. Beberapa kamp yang paling terkenal dari penjara ini adalah Camp Iguana, Camp 7, Camp Echo, dan Camp X-Ray.

Presiden Obama akhirnya mengumumkan rencana menutup Guantanamo, sesaat setelah ia dilantik. Namun upayanya mengalami hambatan. Tahun 2013 ketika para tahanan mulai melakukan mogok makan, Obama kembali mengeluarkan janjinya untuk menutup penjara itu.

Sejak dibuka, 780 tahanan telah ditahan di sana. Pemerintahan Bush memindahkan lebih dari 500 tahanan keluar dari penjara, Pemerintahan Obama memindahkan 197, dan Pemerintahan Trump telah memindahkan 1 orang.

Menurut Amnesti Internasional, penahanan di Guantanamo dimulai dari keputusan AS untuk membingkai respons terhadap serangan 9/11 sebagai 'perang global melawan teror'.

Pada 11 Januari 2021, Amnesti Internasional telah merilis laporan terbaru, yang menyoroti serangkaian kejahatan kemanusiaan yang telah dan masih berlangsung di penjara Guantanamo.

Kejahatan di bawah hukum internasional, seperti penyiksaan dan penghilangan paksa, dilakukan terhadap tahanan, dan sengaja dilakukan di luar jangkauan pengawasan yudisial di fasilitas rahasia yang dioperasikan oleh CIA di negara lain atau di Guantanamo.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Peristiwa Anak Bunuh Diri di NTT Coreng Citra Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:38

SPPG Purwosari Bantah Kematian Siswi SMAN 2 Kudus Akibat MBG

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:20

Perdagangan Lesu, IPC TPK Palembang Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:59

Masalah Haji yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:42

Kilang Balongan Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jawa Barat

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:21

Kemenhub: KPLP Garda Terdepan Ketertiban Perairan Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:59

BMM dan Masjid Istiqlal Luncurkan Program Wakaf Al-Qur’an Isyarat

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:40

Siswa SD Bunuh Diri Akibat Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:13

Menguak Selisih Kerugian Negara di Kasus Tata Kelola BBM

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:59

Rencana Latihan AL Iran, China dan Rusia Banjir Dukungan Warganet RI

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:40

Selengkapnya