Berita

Kepala Divisi Sumber Daya Alam LBH Medan, Muhammad Alinafiah Matondang/Ist

Hukum

Ditegaskan LBH Medan, Lahan Eks HGU PTPN II Tidak Bisa Dialihkan Ke Pihak Ketiga

SENIN, 22 FEBRUARI 2021 | 11:32 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Upaya peralihan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN II ke pihak ketiga atau pihak lain sangat ditentang Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan.

Sebab eks HGU harusnya dikuasai langsung oleh negara. Termasuk perumahan pensiunan Emplasmen Kebun Helvetia Dusun 1 Desa Helvetia, Labuhan Deli yang merupakan bagian dari eks HGU PTPN II seluas 5.873,06 Ha.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Divisi Sumber Daya Alam LBH Medan, Muhammad Alinafiah Matondang, Minggu (21/2).


Pernyataan Muhammad Alinafiah Matondang ini berdasarkan adanya SK Kepala BPN Nomor 42, 43 dan 44/HGU/BPN/2002 tanggal 29 Nopember 2002, dan Nomor 10/HGU/BPN/2004 tanggal 6 Februari 2004.

Di mana lahan seluas 5.873,06 ha dikeluarkan dari HGU PTPN II berdasarkan Risalah panitia B Plus yang disebabkan antara lain adanya perumahan pensiunan karyawan seluas 558,35 ha, maka secara yuridis telah jelas eks HGU PTPN II dikuasai langsung oleh Negara.

Dengan demikian para pensiunan berhak untuk mendapatkan pendistribusian tanah eks PTPN II ini dari Negara. Di antaranya di lokasi perumahan pensiunan Emplasmen Kebun Helvetia Dusun 1 Desa Helvetia.

Pun dengan lahan di Labuhan Deli yang selama berpuluhan tahun ditempati oleh Masidi dkk yang saat ini tengah didampingi oleh LBH Medan. Tidak tertutup kemungkinan juga pendistribusian di perumahan pensiunan pada lokasi lainnya kebun PTPN II.

"Jelas perumahan pensiunan yang ditempati Masidi dkk merupakan termasuk eks HGU PTPN II seluas 5.873,06 ha, maka PTPN II tidak berhak dalam mengalihkan lahan kepada pihak lain," jelas Muhammad Alinafiah Matondang, dikutip Kantor Berita RMOLSumut.

Ali, sapaan akrabnya menjelaskan, berdasarkan Pasal 14 ayat (1) PP No. 40 Tahun 1996, Hak Guna Usaha (HGU) diberikan untuk pertanian, perkebunan, perikanan, dan atau peternakan.

Tapi saat ini PTPN II mengalihkan sebagian Hak Guna Usaha untuk Hak Guna Bangunan (HGB) proyek pembangunan Kota Deli Megapolitan, yang tidak sesuai peruntukan.

Sebagaimana Laporan Kunjungan Kerja Spesifik Panitia Kerja Pengelolaan Aset Komisi XI DPR RI ke Probinsi Sumatera Utara pada 8 sampai 10 Juli 2012, diketahui bahwa untuk areal Deli Megapolitan letaknya bukan di lahan eks HGU.

Dikhawatirkan dalam proses pendistribusian tanah eks HGU PTPN II ini dimanfaatkan oleh mafia tanah yang mencoba untuk mengambil keuntungan dengan mentransaksikan tanah yang dikuasai secara langsung oleh Negara ini.

Ali menduga upaya tanah yang dikuasai Negara secara langsung ini (eks HGU PTPN II) berhasil dialihkan menjadi HGB Kota Deli Megapolitan dan besar kemungkinan akan beralih menjadi Sertifikat Hak Milik yang kepemilikannya tidak lagi oleh para pensiunan atau kalangan masyarakat adat atau yang membutuhkan lainnya, namun hanya dimiliki oleh segelintir investor untuk menumpuk kekayaan sebanyak banyaknya.

Ali juga menduga Proyek Deli Megapolitan yang menggunakan dana puluhan triliunan rupiah ini, berpotensi akan melakukan penggusuran besar-besaran kepada Masyarakat Adat, Pensiunan Karyawan PTPN II, dan kelompok masyarakat lainnya yang menguasai dan mengusahai di beberapa lokasi.

Seperti di Kebun Helvetia, Kebun Sampali, Kebun Bandar Klippa, Kebun Bangun Sari, Kebun Saentis, dan Kebun Penara sebagai lokasi proyek Kota Deli Megapolitan.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya