Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Connecting The Dots

Menganalisis salah satu program Mas Gembong Primadjaja, sebagai calon Ketua Ikatan Alumni ITB
SABTU, 20 FEBRUARI 2021 | 23:06 WIB

SEBAGAI praktisi bisnis yang banyak mempelajari (dan mempraktikkan) hal-hal yang berkaitan dengan innovations, business strategy, dan leadership, saya sangat tertarik dengan program-program mas Gembong Primadjaja (Connecting the Dots, Indonesianisme, Alumni finance Alumni). Tulisan saya kali ini akan membahas tentang Connecting the Dots.

**

Program seperti ini akan meningkatkan creativity dan innovation skills para alumni. Tapi kita diskusikan dulu. What is creativity? Menurut Bill Stainton, seorang produser TV di Seattle, creativity adalah melahirkan ide baru berdasarkan pengetahuan yang sudah kita punya di otak kita.


Anggaplah butir-butir pengetahuan kita itu sebuah dot (titik kecil atau lingkaran kecil). Proses inovasi adalah proses untuk menghubungkan (connecting the) dots.

Sekarang, bayangkan kalau pengetahuan anda minimum, misalnya hanya ada dua dot. Berarti anda hanya mampu membuat satu garis yang menghubungkan dua dot itu. Tak ada pilihan lain, makanya inovasinya terbatas.

Pada saat anda mempunyai banyak dot, ada banyak cara untuk menghubungkan tiga titik tersebut, maka anda sudah menambahkan jumlah ide yang mungkin anda ciptakan.

Itulah mengapa banyak innovator dalam hal teknologi dan seni adalah orang-orang yang multidisciplinary. Leonardo Da Vinci adalah pelukis juga ahli astronomi, biologi, dan palaeontology. Fredy Mercury adalah sarjana Art and Graphic Design yang menjadi salah satu penyanyi yang paling terkenal di dunia. Rowan Atkinson adalah sarjana elektro yang menjadi komedian yang sukses.

Orang-orang itu mampu berinovasi dan melahirkan ide-ide baru karena menguasai banyak pengetahuan dalam bidang yang berbeda. Dan zaman sekarang memang membutuhkan agility (kemampuan untuk mempelajari hal yang baru di luar zona nyaman kita).

Sekarang bayangkan kalau anda punya pilihan atau ratusan dot, makin banyak lagi kan ide anda? Kemudian bayangkan bahwa dot-dot itu ukurannya beda beda, warnanya beda beda, dan jenisnya beda beda (lingkaran, kotak, spiral ... etc), jumlah ide yang anda akan lahirkan akan tidak terbatas.

Artinya apa? Jumlah ide yang kita lahirkan berbanding lurus dengan jumlah pengetahuan kita dan usaha kita untuk menambah ilmu kita dari orang lain. Kita harus banyak bergaul dengan karakter dan background keilmuan yang berbeda beda, agar banyak menambah ilmu dan wawasan.

Di sinilah program “Connecting the Dots”-nya mas Gembong Primadjaja akan sangat relevan. ITB mempunyai ratusan ribu alumni, terpencar di lima benua, di seluruh penjuru nusantara, dan berkecimpung di ratusan bidang keahlian (expertise) dan berbagai bidang industri. Ini adalah sebuah kekuatan yang luar biasa.

Masalahnya sebatang lidi seringkali kelihatan lemah, tetapi sebatang sapu lidi menjadi sebuah kekuatan yang sulit dipatahkan.  

Dengan analogi yang sama, individual competence seringkali sulit melakukan apa-apa, tetapi organizational capability akan mempunyai potensi yang luar biasa untuk memberikan kontribusi bagi bangsa ini.

Lihat betapa hebatnya potensi itu. Sayangnya pada umumnya, di banyak perguruan tinggi, database alumni hanya berisikan data tentang nama, alamat, email, nomor HP, dan mungkin jabatan.

Waduh, jadul banget ya? Bukankah ITB mestinya menjadi pelopor? Bukankah mestinya database alumni berisikan juga data tentang competences, capability, resources, dan opportunity?

Dengan demikian database ini bukan hanya sekadar sebuah database, tetapi juga mampu melakukan link and match serta menghubungkan demand and supply (antara opportunity dan capabilities/resources), sehingga kita bisa move from “connect” to “creating opportunity”.

Would it be great? Yes.
Is this difficult? Obviously.

Apakah mungkin dilakukan? Harus dooong, ini ITB kan? Kalau Napoleon Bonaparte pernah berkata,”Impossible n’est pas francais” (seharusnya “tidak mungkin” tidak pernah ada dalam kamus Bahasa Prancis). Dengan mindset yang sama, mestinya Alumni ITB harus mampu mewujudkan hal itu, karena “Impossible is not ITB"! “Everything has to be possible with ITB”

**

Ringkasnya, Connecting the Dots yang menjadi salah satu program andalan mas Gembong Primadjaja memang akan mengumpulkan dan menyatukan seluruh alumni ITB yang terpencar di lima benua dan di seluruh penjuru nusantara.

Namun, database itu nantinya bukan hanya berisikan data pribadi, nama, alamat,jabatan …dst.

Connecting the dots, juga akan berisikan database yang berisikan:
- Competences
- Capability/resources
- Business/collaboration opportunities

- Ideas/innovation/research

Kata Mas Gembong Primadjaja, program akan dimanifestasikan dalam bentuk peer-to-peer platform untuk mewadahi link and match tidak hanya alumni namun juga akademisi, business man, social community, government, dan media.

Dengan platform tersebut, resources bukan menjadi stand alone as individual resources, namun organizational resources yang dikelola secara stratejik sehingga menghasilkan tidak hanya 3 + 4 menjadi 7, namun menjadi 12, 20, 50, 100, secara eksponensial.

Inilah filosofinya strategi, bukan mengelola individual resources namun organizational resources bahkan national resources yang sebenarnya masih banyak “underutilized”, “unexplored” atau “unexploited”.

Dengan demikian, Ikatan Alumni bukan hanya berkontribusi untuk alumni, namun juga Indonesia yang sedang menghadapi berbagai krisis pandemi dan ekonomi.

Karena sudah saatnya Connecting the dots, bukan hanya menyatukan kita untuk sekadar mengumpulkan alumni-alumni. Sudah waktunya, Connecting the dots menjadi sarana untuk menghubungkan demand and supply, menghubungkan resources dan opportunity, dan terutama moving from “connecting” to “creating opportunities”.


Salam Hangat.


Pambudi Sunarsihanto
Alumnus Teknik Industri ITB 1986

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya