Berita

Penggunaan GeNose di stasiun kereta api/Ist

Dahlan Iskan

GeNose Tak Terkatakan

RABU, 17 FEBRUARI 2021 | 04:22 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

AKHIRNYA GeNose dipakai di tempat-tempat umum. Awalnya di tiga stasiun kereta api: Senen, Jakarta; Gambir, Jakarta; dan Tugu, Jogja. Lalu ditambah lagi Bandung, Solo Balapan, Semarang Tawang, Cirebon, dan Surabaya Pasar Turi.

"Tiga rumah sakit di Jogja juga sudah menggunakannya," ujar Dr dr Dian K. Nurputra. Dian adalah dokter yang bersama penemu GeNose, Prof Dr Kuwat Triyono mengembangkan alat pendeteksi baru Covid-19 itu.

Keduanya sama-sama dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Prof Kuwat dari MIPA, Dian dari kedokteran.


Setelah lebih dua minggu dipakai di tempat umum, Dian berkesimpulan bahwa tingkat ketertularan adalah 3 persen. Artinya, dari semua calon penumpang yang dites, lewat GeNose, tiga persen terdeteksi positif Covid-19. Itu sama dengan standar di mana-mana.

Calon penumpang ternyata lebih suka dites lewat GeNose. "Sampai membeludak," ujar Dr Dian.

Maka, seperti yang di stasiun Senen, Jakarta, GeNose-nya harus ditambah. Semula lima unit menjadi 10 unit.

Tentu, saya pun, seandainya akan naik kereta, akan pilih dites lewat GeNose. Begitu sederhana. Tinggal meniupkan napas dari mulut ke sebuah kantong plastik. Lalu udara yang kantong plastik tersebut dimasukkan alat GeNose. Dalam tiga menit hasilnya sudah bisa keluar.

Tapi di stasiun-stasiun tersebut juga disediakan alat tes antigen. Terserah penumpang, pilih yang mana. Bahkan kalau penumpang mau PCR di klinik atau di RS juga diizinkan. Yang penting ketika datang ke stasiun membawa hasil PCR yang masih valid.

"Sebenarnya bandara-bandara juga sudah minta," ujar Dr Dian, ahli penyakit anak yang menyukai dunia penelitian. Tapi baru kira-kira lima minggu lagi bisa dilakukan. Sayang sekali masih begitu lamanya.

Tentu pemesanan akan GeNose membanjir. Apalagi harganya begitu murah: Rp 70 juta/unit. Sudah termasuk pelatihan. Bandingkan dengan PCR yang di atas Rp 700 juta. Bahkan sampai Rp 1,2 miliar. Saya pun sudah memesan 10 buah. Sudah sejak tiga minggu lalu. Belum dapat kabar kapan bisa mendapatkannya.

Kalau hasilnya memang sudah begitu meyakinkan, baiknya soal modal harus diatasi bersama. Memang zaman sekarang ini semua pembelian harus kontan. Bahkan harus bayar di depan. Saya menangkap kesan, di soal modal ini GeNose ada masalah. Itu terlihat dari gejala kurang lancarnya produksi.

Memang untuk memesan komponen dari luar negeri, harus bayar di depan. Kalau kita mau cepat. Seperti sensor dan artificial intelligence itu. Yang harus dibeli dari Jepang.

Maka baiknya pemerintah segera menangkap keinginan yang tidak terkatakan oleh UGM ini. Tentu saya setuju agar mereka jangan dibantu modal. Harus tetap lewat mekanisme bisnis.

Tapi ada cara. Toh dana Covid ratusan triliun rupiah. Pasti ada jalan untuk UGM –apalagi presiden kita alumnus UGM. Cara yang paling aman adalah cara bisnis: pemerintah membeli GeNose dalam jumlah yang cukup. Dengan bayar di depan.

Dengan demikian transaksinya jelas dan sah. Agar para peneliti di UGM tidak terkena masalah hukum di kemudian hari.

Presiden (waktu itu) Donald Trump pernah melakukannya. Kalau tidak, vaksin tidak bisa segera ditemukan.

Demikian juga Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Ambil keputusan cepat.

Trump sudah berani membeli vaksin ke Pfizer dengan nilai tidak kepalang tanggung: 4 miliar dolar. Untuk pesanan 100 juta vaksin. Bayar di depan.

Padahal, waktu itu, Pfizer belum resmi menemukan vaksin Covid-19 tersebut. Pfizer baru menyanggupi untuk melakukan penelitian. Dan memberikan gambaran bahwa kelihatan itu akan bisa menemukannya.

Uni Eropa kelihatan ragu-ragu untuk membayar vaksin AstraZeneta di muka. Akhirnya membayar juga –telat. Ketika vaksin berhasil ditemukan Uni Eropa tidak diprioritaskan untuk dikirimi. Akibatnya parah. Inggris sudah melakukan vaksinasi sejak tanggal 2 Desember. Eropa ketinggalan jauh. Rakyat Eropa marah.

Inggris yang baru keluar dari asosiasi Eropa ternyata membuktikan "berada di luar Eropa bisa lebih baik".

Kembali ke soal GeNose. UGM memang ber-partner dengan lima perusahaan swasta –termasuk perusahaan perakitnya. Satu perusahaan mengerjakan satu bidang. Lalu dirakit oleh satu perusahaan berikutnya.

"Kemampuan produksi mereka bisa 3.000 unit/bulan," ujar Dr Dian. Berarti sebenarnya tidak ada masalah. Maka saya membaca apa yang tidak bisa dibaca dari mulut Dr Dian: modal tadi.

Harga komponennya sendiri memang tidak mahal. Tapi jumlah pemesanan tidak bisa sedikit. Agar tidak menjadi mahal karena ongkos logistik. Itulah sebabnya tetap diperlukan uang besar.

Mungkin UGM tidak akan mengalami kesulitan ini kalau ber-partner dengan perusahaan raksasa. Tapi UGM kelihatannya tidak ingin jatuh ke kapitalisme besar. UGM memilih perusahaan kecil sebagai partner.

Saya terharu melihat idealisme UGM seperti itu. Pesanan saya yang hanya 10 unit itu pun semata karena keterharuan itu.

Tapi inilah momentum bagi UGM untuk memiliki usaha yang bisa langsung mendapat pasar yang besar. Tentu speed juga jadi faktor penentu dalam bisnis.

Meski bisnis ini sulit ditiru tetap saja kecepatan tidak boleh diabaikan. Tetap saja momentum adalah faktor penentu. Kalau produksi GeNose ini tidak didukung bersama, bisa-bisa UGM kehilangan momentum.

GeNose adalah juga salah satu momentum bagi ilmuwan Indonesia. Untuk bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di bidang ini. Bahkan punya potensi bisa ekspor secara besar-besaran.

Pasangan Prof Kuwat dan dokter Dian sendiri sebenarnya bukan pasangan baru. Bukan baru di GeNose. Keduanya sebenarnya sedang mengerjakan penelitian bidang sakit napas dan lumpuh layu. Tapi karena ada Covid penelitian pun dibelokkan dulu ke GeNose. Kebetulan masih satu garis. Hanya saja, kalau semula namanya e-Nose, kini menjadi GeNose –ditambah Gadjah Mada di depannya.

Dian sendiri lahir di Malang. SMA-nya di SMAN 1 Malang. Lalu masuk fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Setelah ditugaskan di berbagai pelosok Nusantara (Aceh, Poso, Papua, dll) Dian masuk S-2 UGM. Lalu meneruskan S-3 di Kobe, Jepang.

Setelah mendapat gelar doktor, Dian dilarang pulang. Harus mengajar dulu di Jepang selama 2 tahun. Tidak masalah. Istrinya sudah ia bawa ke Jepang. Satu anaknya lahir di sana.

Tiba kembali di Jogja, Dian menghadiri presentasi Prof Kuwat. Yang lagi mencari partner penelitian.

Meski sama-sama meraih gelar doktor di Jepang, tapi baru di forum itulah Dian berkenalan dengan Prof Kuwat. Jadilah mereka sepasang peneliti yang tangguh. Dengan karya yang ikut menentukan hasil penanganan pandemi di negeri ini. Kalau jadi.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya