Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Editorial

Asal Bapak Senang

KAMIS, 11 FEBRUARI 2021 | 22:54 WIB | OLEH: AZAIRUS ADLU

Kritik adalah hal yang lumrah di negara demokrasi tak terkecuali Indonesia. Sejak era reformasi 1998, Indonesia bisa dikatakan adalah salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Predikat itu bertahan sampai sekarang.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi meminta masyarakat lebih aktif dalam menyampaikan kritik dan masukan terhadap kerja-kerja pemerintah. Demi terciptanya peningkatan layanan publik.

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI Tahun 2020, Senin lalu (8/2).


"Masyarakat harus lebih aktif menyampaikan kritik, masukan, atau potensi maladministrasi. Dan para penyelenggara layanan publik juga harus terus meningkatkan upaya perbaikan-perbaikan," kata Jokowi melalui tayangan YouTube Ombudsman RI.

Pernyataan itu disambut beragam oleh publik, namun mayoritas melihat pernyataan Jokowi tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat.

Para pengkritik pemerintah kerap kali mendapat perlakuan tidak 'manusiawi' bila mengkritik kerja-kerja pemerintah. Pasukan buzzer siap siaga menjegal kritik yang disampaikan, bahkan kadang melaporkannya ke aparat kepolisian dengan dalih ujaran kebencian, fitnah, melanggar UU ITE.

Salah satunya yakni dua aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat, keduanya mengkritik lalu dilaporkan ke aparat, kasusnya berjalan, ditahan, kini masuk fase persidangan.

Tak tanggung, bekas menteri kelautan dan perikanan di periode pertama Jokowi juga diserang habis-habisan oleh buzzer, ini terjadi usai Susi Pujiastuti mengkritik kebijakan perikanan pemerintah, kini tiap unggahan Susi dibanjiri buzzer garis keras pemerintah.

Bahkan orang-orang yang menyatakan diri sebagai relawan Jokowi dan simpatisan partai pengusung juga ikut-ikutan, 'menyerang' habis Susi.

Selain tiga nama tersebut, masih banyak orang-orang yang pastinya juga merasakan tajamnya serangan buzzer atau latahnya mereka mengadukan pengkritik ke polisi.

Sulit untuk dijabarkan, karena jumlahnya tidak sedikit.

Dengan keadaan seperti sekarang ini, agak lucu sepertinya bila Presiden meminta masyarakat untuk aktif memberikan kritikan kepada pemerintah. Bisa dipastikan publik enggan, khawatir oleh kinerja buzzer atau UU ITE.

Ditelaah lebih dalam, apa maksud Jokowi meminta publik memberikan kritikan? bisa jadi, kalau boleh diprediksi, sepertinya ada yang tidak beres dalam ring terdekat Jokowi.

Mungkin saja para pembantu Presiden tidak pernah mengabarkan kendala-kendala yang terjadi selama ini. Mereka hanya melaporkan yang baik-baik saja, 'asal bapak senang'

Namun kenyataan, tidak membuat si bapak senang. Hingga akhirnya Jokowi ingin mendengar langsung suara masyarakat, apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Apakah layanan dan kebijakan pemerintah sudah sesuai dengan apa yang dicanangkan, apa yang diharapkan publik luas.

Sepertinya, Jokowi mulai tidak nyaman mendapat laporan yang bagus-bagus saja, padahal kinerja di lapangan melempem, bahkan mengkhawatirkan.

Kalau memang kejadiannya seperti itu, Jokowi harus berani mengambil siasat, bagaimana caranya mendapat informasi valid dari luar, yang bisa jadi berbanding terbalik dengan apa yang dilaporkan para bawahannya.

Lalu tertibkan buzzer, beri pemahaman kepada relawan dan simpatisan, bahwasanya negara demokrasi yang baik perlu mendapat kritikan, khususnya dari luar pemerintahan, agar jalannya program pemerintah bisa tepat sasaran dan publik terpuaskan lahir batin.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya