Berita

Nyamuk/Net

Jaya Suprana

Meniti Titian Nyamukologi

RABU, 10 FEBRUARI 2021 | 09:12 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA belajar lebih dekat mengenal mahluk hidup yang disebut sebagai nyamuk dari acara gelar wicara Jaya Suprana Show bersama narasumber Prof. Damayanti Buchori sebagai Guru Besar Entomology & Evolutionary Biology serta Head of Center for Transdisiplinary anda Sustainability Universitas IPB.

Nyamukologi


Dari pembelajaran yang diperoleh dari Prof Damayanti Buchori , saya baru tahu bahwa ternyata ada serangga bersayap empat tapi ada pula yang bersayap dua alias diptera seperti nyamuk.


Entah kenapa tidak ada serangga bersayap enam meski kaki serangga berjumlah enam. Sementara laba-laba bukan serangga akibat berkaki delapan.

Konon nyamuk yang diduga lebih dari 3000 jenis merupakan mahluk hidup paling berhasil menyebarluaskan penyakit. Dapat dimengerti bahwa nyamuk dianggap sebagai mahluk hidup yang tidak disukai oleh manusia.

Pesaing berat nyamuk dalam hal paling dibenci manusia adalah lalat dan kecoak yang dianggap lebih jorok ketimbang nyamuk.

Nyamuk tidak disukai manusia akibat kemampuan menusuk kulit manusia demi menghisap darah manusia. Nyamuk juga menjengkelkan berkat menguasai ilmu silat menghindari upaya manusia membunuh nyamuk dengan jurus gesit berkelit terbang mengelak tamparan manusia yang mematikan.

Dengungan sayap nyamuk manjur berfungsi sebagai pendukung insomnia. Di samping unsur-unsur mengganggu itu, nyamuk juga potensial berperan sebagai kapal-induk atau vector pembawa penyakit-penyakit bukan saja merusak kesehatan, namun juga membawa maut bagi umat manusia.

Penyakit yang dibawa oleh nyamuk menewaskan jutaan manusia di planet bumi ini dengan dampak disporporsional terhadap anak-anak dan lansia terutama di negara-negara berkembang. Ironisnya nyamuk penyebab demam berdarah relatif subur tumbuh-kembang di negara dengan higienitas tinggi.

Di antara lebih dari ribuan jenis nyamuk sampai masa kini hanya tiga jenis yang membawa penyakit maut bagi manusia yaitu Anopheles sebagai malaikat maut penyakit malaria di sampung elephantiasis, Cules sebagai pembawa virus Nil Barat, Aedes sebagai pembawa penyakit kuning, demam berdarah dan encephalitis.

Diskriminasi Gender

Menarik adalah fakta bersifat diskriminasi gender bahwa ternyata hanya nyamuk betina yang memiliki organ alat hisap untuk menghisap darah manusia.

Nyamuk bisa mendeteksi mangsanya dengan mencium jenis bau dan suhu badan manusia, maka ayah saya dan saya lebih jarang dihinggapi nyamuk untuk menghisap darah kami ketimbang ibu saya dan adik perempuan saya.

Pada saat menghinggapi manusia, maka nyamuk betina menggunakan proboskis yang terdiri dari dua jarum menusuk kulit manusia.

Jarum yang satu untuk menyuntikkan ensim anti penggumpalan darah manusia dan yang satu untuk menghisap darah manusia ke dalam tubuh manusia.

Nyamuk betina tidak menggunakan darah manusia untuk diri mereka sendiri namun sebagai protein untuk telur-telur yang dikandung oleh para nyamuk betina. Sebagai makanan, baik nyamun betina mau pun sama-sama makan nectar dan glukosa tanaman.

Ekosistem


Reputasi yang menyelamatkan nyamuk sebagai penyebab penyakit mematikan manusia adalah bahwa di dalam ekosistem marcapada, nyamuk merupakan sumber makanan bagi burung, kelelawar, capung, katak, kodok, cicak, tokek.

Bahkan ketika masih berbentuk larva, uget-uget sangat digemari oleh ikan termasuk kecebong. Kampret tidak makan nyamuk sebab lebih suka buah.

Berarti tanpa nyamuk sebagai bagian melekat pada lingkaran jaringan kehidupan maka rusaklah ekosistem di planet bumi yang cuma satu dan satu-satunya di alam semesta ini.

Sampai saat naskah nyamukologi ini ditulis, masih belum dilketahui apakah ada nyamuk di planet-planet lain di galaksi Bima Sakti apalagi di galaksi lain-lain di alam semesta ini.

Meski saya tidak bisa membuktikan benar-tidaknya namun berdasar kedangkalan logika biologikal dan astrofisikal mau pun astrobiologikal saya yang kelas playgroup sudah bisa disimpulkan tidak ada nyamuk di rembulan apalagi matahari.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Koperasi Berbasis Masjid Diharap Bangkitkan Ekonomi Lokal

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:02

Ramadan Momentum Menguatkan Solidaritas Sosial

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:44

Gerebek Rokok Ilegal Tanpa Tersangka, PB HMI Minta Dirjen Bea Cukai Dievaluasi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:21

Mudik Arah Timur, Wakapolri: Ada Peningkatan Volume Kendaraan Tapi Lancar

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:08

Rencana Libatkan TNI Berantas Terorisme Kaburkan Fungsi Keamanan dan Pertahanan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:46

Purbaya: Ramalan Ekonomi RI Hancur di TikTok dan YouTube Tak Lihat Data

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:21

KPK Tetapkan 2 Tersangka OTT di Cilacap

Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:58

Komisi III DPR Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38

AS Pastikan Harga Minyak Dunia Tak akan Tembus 200 Dolar per Barel

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:55

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:43

Selengkapnya