Berita

Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta, KH Jamaluddin F Hasyim/Net

Politik

Dikritik Karena Dorong Polisi Proses Hukum Abu Janda, Jamaluddin: Terus Saya Mesti Bilang Wow Gitu?

SENIN, 01 FEBRUARI 2021 | 09:24 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Sikap tegas Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta, KH Jamaluddin F Hasyim, yang ikut mendorong aparat kepolisian menuntaskan kasus twit 'Islam Arogan' membuatnya menerima banyak kritikan.

Jamaluddin mengungkapkan, para pengkritiknya menganggap Abu Janda adalah meriam yang efektif menyerang kelompok Islam radikal dan intoleran yang umumnya anti-Nahdlatul Ulama atau NU.

"Menurut mereka, Abu Janda harusnya dibela bukan malah dicaci. Abu Janda dianggap berjasa membela para kiai ketika beliau-beliau diserang kelompok 'seberang'. Intinya Abu Janda adalah sahabat kita," kata Jamaluddin, Senin (1/2).


"Terus saya mesti bilang 'wow' gitu?" sambungnya menyindir para pengritiknya.

Jamaluddin menilai, setidaknya ada enam alasan kasus Abu Janda harus diproses hukum secara tuntas.

Pertama, dalam struktur nalar seperti diungkapkan para pengkritiknya, bahwa Abu Janda hadir sebagai kekuatan tambahan untuk menghadapi kelompok intoleran dan anti NU.

"Lantas darimana Abu Janda muncul, apa motifnya, tuluskah dia untuk membela keyakinan para ulama NU? Benarkah dia pejuang sejati yang hadir semata untuk tugas mulia itu? Daftar pertanyaan ini mungkin tidak penting bagi mereka," kata Ketua Yayasan Dakwah Syi'arul Islam ini.

Kedua, kapasitas keilmuan dan kompetensi untuk melakukan tangkisan, benarkah boleh dilakukan oleh sembarang orang, hanya modal nekat dan berani?

"Bukankah kita selama ini mengkiritik para pendakwah yang baru bisa agama, tanpa kompetensi, sudah ceramah dan fatwa sana sini? Apakah kritik kita kepada mereka tidak berlaku jika itu dilakukan untuk "membela" kita?" ungkap Jamaluddin, dikutip Kantor Berita RMOLJakarta.

Ketiga, simbol mulia NU dan Ansor/Banser apakah boleh digunakan sembarang orang tanpa mempedulikan bahwa dibalik simbol itu terdapat harga diri, nama baik, dan cita-cita luhur pendirinya.

"Keempat, tampaknya berlaku 'enemy of my enemy is my friend'. Musuhnya musuhku adalah temanku. Dengan logika yang sama, maka musuhnya Israel adalah temanku, misalnya China dan Rusia. Musuhnya FPI adalah temanku. Jika FPI dimusuhi pelaku bisnis maksiat, apakah pelaku bisnis maksiat itu adalah teman kita," beber Jamaluddin.

Kelima, menurut Jamaluddin, Abu Janda tidak berangkat dari ruang hampa. Ia masuk medan perang dengan kesadarannya, tim media sosialnya, bahkan mungkin sponsor dananya.

"Abu Janda tidak sama dengan mahasiswa yang demo yang masih polos dan hanya tahu teriak membela keyakinannya. Seringkali kepolosan mahasiswa itu dimanipulasi oleh kepentingan tertentu," kata Jamaluddin.

"Pertanyaannya, siapakah di belakang Abu Janda ini? Apa motif ia membiayai Abu Janda? Benarkah murni memerangi radikalisme dan intoleransi? Jika benar, apakah sikap kritis yang sama ditunjukkan Abu Janda jika pelaku intoleransi berasal dari non muslim? Jika hanya 'galak' kepada muslim dan bungkam untuk nonmuslim, bagaimana kita membacanya? Sejarah yang bisa menjawab," papar Jamaluddin.

Keenam, glorifikasi berlebihan terhadap Abu Janda menyiratkan seakan para ulama tidak berdaya menghadapi serbuan opini negatif dari pihak lain sehingga keberadaan Abu Janda patut disyukuri.

Jamaluddin pun menganggap lucu apabila menganggap para ulama perlu amunisi tambahan untuk menghadapi serangan itu.

"Jangan gitu dong. Para ulama kita sudah terbukti sekuat karang menghadapi serangan kepada mereka, baik opini maupun bahkan serangan fisik," ujar Jamaluddin.

"Jadi, soal Abu Janda santai saja. Dia salah ya harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Jangan pula berpayah diri membelanya seakan dia aset berharga. Paling tinggi dia itu sekutu dalam menjaga NKRI tercinta. Tidak lebih. Tanpa glorifikasi," pungkasnya.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Abu Janda pada hari ini, Senin (1/2).

Abu Janda akan dimintai keterangan Bareskrim terkait unggahannya di Twitter yang menyebut “Islam Arogan”.

Hal ini merupakan tindaklanjut ke Bareskrim Polri atas pelaporan Abu Janda oleh DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang dimotori Ketua Umum Haris Pertama.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya