Stanley Harsha dalam acara diskusi virtual bersama Marapi dan RMOL/Net
Joe Biden mendapat dukungan yang sangat kuat dari berbagai komunitas. Mulai dari orang yang berpendidikan tinggi dan berbagai suku dan agama. Berbeda halnya dengan pendahulunya, Donald Trump, yang selama ini mendapat dukungan hanya dari kalangan berpendidikan rendah dan orang-orang kaya.
Stanley Harsha, mantan diplomat AS, menyampaikan pandangannya itu dalam diskusi virtual 'Arah Kebijakan Presiden AS Joe Biden Terhadap Indonesia Dan Dunia', Sabtu (30/1).
"Jadi, sebenarnya Biden memiliki mandat yang sangat besar, dari berbagai kalangan," ujar Stanley. Menambahkan bahwa hal itu menunjukkan sosok Biden yang dicintai oleh banyak orang.
Stanley mengungkapkan, kebijakan luar negeri AS selama ini adalah berdasakan suara hati masyarakat AS itu sendiri.
"Ini bukan hal baru, tetapi terjadi sejak AS didirikan," katanya, merujuk pada platform Partai Demokrat 2020.
Mengutip dari laman Demokrat, setiap empat tahun partai Demokrat dari seluruh negeri bergabung bersama untuk menyusun platform partai. Platform ini dibuat untuk menunjuk orang-orang yang bekerja dan menuliskan nilai-nilai yang akan memandu partai untuk beberapa tahun mendatang.
Seperti pesan dari Richard N. Haass, Presiden Dewan Hubungan Internasional, bahwa ancaman terbesar bagi Amerika Serikat bukan berasal dari luar negeri tetapi dari dalam.
"Amerika perlu membenahi rumahnya sendiri," ujar Stanley, seraya menambahkan bahwa kebijakan luar negeri didasarkan pada pembentukan warga negara AS dari setiap komunitas.
"Namun saat ini, kita menghadapi dunia yang berbeda dengan sebelum datangnya masa pandemik. Saat ini semua dunia lebih jaga kepentingan masing-masing, termasuk Indonesia, dan negara-negara lain di dunia," kata Stanley.
Saat ini kebijakan AS dan internasional akan sangat berbeda akibat pandemik. Stanley memerinci kebijakan yang dilakukan AS di tengah pandemik akan dimulai dengan kebijakan ekonomi Amerika yang sehat ala Biden, seperti janjinya pada saat kampanye.
Joe Biden menjanjikan akan membangkitkan kembali ekonomi dari resesi akibat dampak pandemi Covid-19. Alokasi anggaran sebesar 700 miliar dolar AS atau sekitar Rp 10.000 triliun untuk industri manufaktur dan teknologi AS.
Nilai 700 itu adalah perincian untuk manufaktur selama empat tahun ke depan sebesar 400 miliar dolar AS dan untuk penelitian dan pengembangan teknologi sebesar 300 miliar dolar AS. Tujuan alokasi dana sebesar itu untuk menciptakan 5 juta pekerjaan, menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang hilang akibat wabah virus corona.
"Biden akan memperhatikan dulu kemampuan AS untuk punya kebijakan yang kuat di luar negeri. Saat ini bagi Biden adalah bagaimana menciptakan Amerika yang sehat.