Berita

Prof Dr Arry Bainus MA, Guru Besar FISIP Universitas Padjajaran/Repro

Dunia

Di Bawah Pemerintahan Biden, Indonesia Tetap Harus Waspada Soal Perdagangan Kelapa Sawit

SABTU, 30 JANUARI 2021 | 11:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Joe Biden adalah tokoh politisi yang andal di Amerika Serikat. Pengalamannya yang malang melintang di dalam persoalan-persoalan hubungan luar negeri menjadikannya sosok yang dipandang cukup bisa memegang peranan kebijakan Amerika Serikat.

Walau demikian, beberapa pihak ada juga yang mempertanyakan kebijakan luar negerinya dalam beberapa isu, seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, ras dan gender, serta kebijakan ekonomi.

Prof Dr Arry Bainus MA, dari Universitas Padjajaran, mengatakan, untuk isu hak asasi manusia, ras dan gender, ini adalah isu yang selalu mengemuka di AS. Joe Biden juga akan berhadapan dengan isu ini.


"Ini ini seolah tak pernah selesai, isu yang laten. Siapa pun presidennya di AS akan selalu terganjal dengan persoalan ini," ujar Arry, dalam acara diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Marapi Consulting and Advisory, Sabtu (30/1).

Namun demikian, Joe Biden akan cenderung menjalankan kebijakan multilaterarisme dengan mengandalkan sekutu-sekutunya. Indonesia menjadi negara yang dipandang penting untuk membuat kawasan Asia Tenggara tetap kondusif, terutama berkaitan dengan isu Laut China Selatan.

"Di sektor ekonomi, Joe Biden akan kembali menjalankan kebijakan Trans-Pacific Partnership (TPP) sebagai upaya untuk melawan kekuatan ekonomi Tiongkok yang meningkat," ujar Arry.

Ia juga mengingatkan, Indonesia harus berhati-hati dalam melakukan perdagangan kelapa sawit dan tambang. Karena Joe Biden cenderung mengikuti Uni Eropa dalam melarang perdagangan terkait yang 'merusak lingkungan'  seperti deforestasi, kebakaran hutan, hingga pembalakan liar.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya