Berita

Pendukung Donald Trump menduduki Gedung Capitol/Net

Dahlan Iskan

Skenario Fatamorgana

SABTU, 30 JANUARI 2021 | 04:39 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KOMANDO Jihad juga begitu. G 30S/PKI juga begitu. Kanan begitu. Kiri begitu. Pun pendudukan gedung DPR/MPR Amerika Serikat –gedung Capitol– tanggal 6 Januari lalu.

Mereka yang bergerak ke gedung Capitol itu umumnya percaya: gerakan mereka akan langsung disambut dengan dekrit Presiden Donald Trump. Yakni bahwa negara akan langsung dinyatakan dalam keadaan darurat. Lalu tokoh-tokoh yang melawan Trump ditangkap. Termasuk presiden terpilih Joe Biden, Ketua DPR Nancy Pelosi, dan belakangan juga Wapres Mike Pence. Bahkan, mereka itu, akan langsung dieksekusi –agar tidak dibebaskan oleh pengadilan.

Mereka percaya akan ada kejadian seperti itu.


''Skenario'' tersebut beredar luas di kalangan kelompok pendukung Trump. Yakni mereka yang percaya bahwa Amerika Serikat itu aslinya didirikan sebagai negara Kristen kulit putih. Yang sekarang lagi dibelokkan oleh kekuatan rahasia pemuja setan. Mereka merasa wajib berjuang mengembalikan Amerika sesuai dengan misi saat didirikannya.

Mike Pompeo sendiri saat mengakhiri jabatannya sebagai menteri luar negeri menegaskan: multikulturalisme bukanlah Amerika. Begitulah yang saya baca di Twitter-nya.

Memang, belakangan, kalau ditanya siapa Amerika itu, jawabnya adalah negara multikultural. Tapi tokoh pendukung Trump sekelas Pompeo pun secara tidak langsung ingin menegaskan: Amerika adalah itu tadi.

Dengan adanya skenario ''demo-duduki-dekrit-darurat-tangkap'' seperti itu mereka mudah terpancing. Mereka berani menduduki Capitol sebagai bagian dari skenario. Apalagi Presiden Trump sendiri sudah berpidato di depan mereka. Yang minta untuk membanjiri Capitol. Dengan kekuatan. Bukan dengan jiwa lemah.

Kepercayaan mereka bertambah manakala diembuskan tambahan info: militer berada di belakang mereka. Untuk mengamankan dekrit presiden.

Ribuan tentara yang hari itu sudah memenuhi Washington DC mereka anggap sebagai bagian dari skenario. Mereka akan bergerak manakala dekrit diumumkan Trump.

Para pendukung Trump melihat sendiri. Tentara sudah menguasai wilayah sekitar Gedung Putih dan Capitol. Mereka yakin tentara itulah yang akan bergerak. Menangkapi para lawan Trump –yang mereka tuduh  sebagai golongan kiri yang akan membawa Amerika menjadi negara komunis.

Dan mereka kecewa.

Semua itu tidak terjadi.

Trump memang terus mengikuti pergerakan pendukungnya memasuki Capitol. Yakni dari siaran streaming TV besar di Gedung Putih. Tapi ia tidak mengeluarkan dekrit yang mereka tunggu.

Maka setelah lima jam berada di Capitol –termasuk berhasil menjarah ruang kerja Pelosi dan mengambil laptopnyi– mereka berhasil dihalau.

Kini sudah lebih 400 orang ditangkap. Termasuk yang sudah membawa borgol ke Capitol. Juga yang berteriak ''gantung Pence''.

Komando Jihad di tahun 1968-1970 pun seperti itu. Beredar skenario di kalangan gerakan Islam tertentu bahwa Indonesia akan jadi komunis. Islam harus bergerak. Bahkan ada provokasi lebih baik mendirikan Negara Islam Indonesia.

Waktu itu saya masih kelas 3 Madrasah Aliyah (SMA). Saya termasuk yang diprovokasi itu. Saya memang sekretaris jenderal asosiasi santri di 100 madrasah lebih.

Teman-teman saya bersemangat sekali untuk mendirikan Negara Islam. Mereka mengatakan sudah 9 batalyon tentara yang memihak  gerakan itu.

Kebetulan nafsu untuk mendirikan Negara Islam memang ada. Di bawah permukaan.

Setelah dirasa matang Komando Jihad bergerak. Atau, tepatnya, akan bergerak. Lalu ditangkapi. Ketua umum saya ditangkap. Ia cerdas. Bintang pelajar. Pandai pidato. Jago indoktrinasi.

Ternyata tidak ada itu dukungan batalyon yang disebut-sebut.

Guru dan teman-teman saya ditangkap. Ketua umum yang hebat tadi ditahan. Dimasukkan penjara. Hukumannya 20 tahun di penjara Koblen Surabaya. Masa depannya habis di penjara. Kepintarannya sia-sia.

Mereka umumnya tergiur oleh pancingan skenario seperti itu. Aneh. Masyarakat kelas Amerika juga terjebak skenario menduduki Capitol. Entah dari mana datangnya.

Baru sekian tahun kemudian diketahui: komandan tertinggi Komando Jihad itu, Haji Ismail Pranoto, putra tokoh pemberontak NII di Jabar, berkantor di sebelah ruang kerja Kepala Bakin Ali Murtopo.

Fanatik memang buta. Termasuk buta terhadap skenario fatamorgana. Dan hebatnya ini terjadi juga di Amerika. Di zaman medsos dan internet.

Bagaimana pula tidak terjadi di negara yang seperti kita.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya