Berita

Menkes Prancis Olivier Veran/Net

Dunia

Pandemi Covid-19 Di Prancis Makin Gawat, Menkes: Kami Menganggap Varian Yang Sekarang Ini Sebagai Virus Baru

JUMAT, 29 JANUARI 2021 | 09:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Prancis terus melalukan upaya terbaik mereka untuk menahan gempuran virus corona jenis baru yang menyebar dengan cepat di negaranya, di antaranya dengan memperketat aturan jam malam.

Sayangnya, upaya itu belum cukup berhasil.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran dalam konferensi pers nya, Kamis (28/1) waktu setempat.


Veran mengatakan bahwa varian baru dari virus corona secara aktif menyebar, dan mengakibatkan tekanan yang meningkat pada sistem rumah sakit Prancis.

Dia pun kembali menyerukan tindakan yang lebih ketat untuk menahan virus, di atas jam malam pukul 6 sore hingga 6 pagi.

"Kami menganggap varian baru ini sebagai virus baru," kata Veran, seraya menambahkan: "Kami perlu menghindari pandemi dalam pandemi," ujarnya, seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/1).

Menteri Kesehatan mengatakan jumlah pasien yang terinfeksi varian baru telah meningkat dari sekitar 500 per hari pada awal Januari menjadi lebih dari 2.000 pasien per hari, pada Kamis (28/1).

 Sekitar 60 persen tempat tidur perawatan intensif Prancis sekarang ditempati oleh pasien virus corona, katanya, seraya menambahkan bahwa Prancis sekarang hampir harus mentransfer pasien antar wilayah untuk mengurangi tekanan pada rumah sakit tertentu.

Sebelumnya, juru bicara pemerintah Prancis, Gabriel Attal, mengatakan varian virus corona yang pertama kali ditemukan di Inggris, yang dikatakan memiliki tingkat penularan lebih tinggi, telah ditemukan pada 10 persen kasus Covid-19 di Prancis.

Attal mengatakan kepada radio France Inter bahwa opsi penguncian yang lebih ketat tetap terbuka untuk pemerintahan Presiden Emmanuel Macron, tetapi dia tidak memberikan rincian yang lebih spesifik.

Prancis melaporkan hampir 27.000 kasus Covid-19 baru yang dikonfirmasi pada hari Rabu (27/1), lompatan satu hari terbesar sejak pertengahan November ketika Prancis berada dalam penguncian penuh kedua.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya