Berita

Ketua Partai Reformasi, Kaja Kallas yang terpilih menjadi Perdana Menteri Estonia/Net

Dunia

Estonia Tunjuk Perempuan Sebagai Perdana Menteri, Pertama Dalam Sejarah Baltik

SENIN, 25 JANUARI 2021 | 12:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dua partai politik terbesar Estonia telah mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru yang akan dipimpin oleh Ketua Partai Reformasi, Kaja Kallas, pada Minggu (24/1) waktu setempat.

Penunjukkan tersebut akan menjadikan Kaja Kallas sebagai perdana menteri wanita pertama dalam sejarah negara Baltik.

Keputusan untuk menunjuk Kaja Kallas datang setelah pemerintahan sebelumnya, yang dipimpin PM Juri Ratas mengundurkan diri akibat skandal korupsi, pada 13 Januari lalu.


Selain ketua partai, Kaja Kallas juga berprofesi sebagai seorang pengacara. Perempuan berusia 43 tahun ini pertama kali menjabat sebagai anggota parlemen di Parlemen Eropa pada 2014 hingga 2018. Saat menjabat, dia fokus pada masalah energi dan kebijakan digital.

Ayahnya, Siim Kallas, adalah salah satu pendiri Partai Reformasi Estonia. Dia sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri negara itu dan kemudian melayani di dua posisi komisaris Uni Eropa.

Kaja Kallas mengambil kendali Partai Reformasi pada 2018 sebagai perempuan pertama yang memimpin partai.

Dalam pernyataan bersama, kedua partai yang berkoalisi yakni Partai Reformasi dan Partai Tengah yang saat ini berkuasa, mengatakan bahwa mereka akan fokus untuk menyelesaikan krisis Covid-19 yang tengah melanda negara tersebut.

"Kami akan membentuk pemerintahan yang akan terus secara efektif menyelesaikan krisis Covid-19, menjaga Estonia tetap memandang ke depan dan mengembangkan semua area dan wilayah negara kita," seperti dikutip dari DW, Senin (25/1).

Berdasarkan perjanjian tersebut, para pihak juga telah mengajukan Kabinet yang akan berdasar berkeadilan gender. Mereka sepakat untuk membagi 14 jabatan menteri pemerintah secara merata di antara masing-masing partai.

"Ide di balik komposisi pemerintahan saya adalah untuk mencapai keseimbangan antara pria dan wanita dan antara pengalaman dan kebaruan," kata Kallas kepada wartawan, mengutip laporan media Estonia ERR.

Estonia adalah negara kecil Baltik dengan populasi 1,3 juta. Mereka akan mengadakan pemilihan umum lagi pada Maret 2023 mendatang.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya