Berita

Dari kiri: Rm Agustinus Purnomo MSF (Superior General Kongregasi MSF), RP Markus Solo Kewuta SVD - Konselebeans Utama dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC (Assistant Superior General Kongregasi MSC)/Net

Global

Markus Solo: Ikatan Kebangsaan Dan Spirit Keindonesiaan Melemah Hingga Terjadi Polarisasi

MINGGU, 24 JANUARI 2021 | 18:20 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ikatan kebangsaan dan spirit ke-Indonesiaan pada saat ini melemah. Alasan utamanya adalah telah terjadi polarisasi dalam tubuh bangsa Indonesia.

Polarisasi yang terjadi saat ini, mengakibatkan kemajemukan bangsa yang seharusnya menjadi kekuatan menjadi kelemahan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan anugerah tersebut.

Demikian ditegaskan oleh RP Markus Solo Kewuta SVD, konselebrans utama dalam misa secara virtual Buka Tahun Baru Bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) XVI-2021, Sabtu (23/1).


Konselebrans lain dalam misa yang diadakan di Roma, Italia itu adalah  Rm Agustinus Purnomo MSF, Superior General Kongregasi MSF dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC, Assistant Superior General Kongregasi MSC di mana ketiga konselebran itu berasal dari Indonesia.

Markus Solo yang duduk sebagai staf Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Bergama Untuk Tahta Suci dan berkedudukan di Vatikan itu menegaskan, krisis yang muncul di Indonesia pada saat ini terutama disebabkan ada sebagian masyarakat yang tidak mendukung serta bekerjasama secara jujur dan sekaligus sepenuh hati kepada presiden yang resmi dipilih secara demokratis.  

Hal ini menambah berbagai kompleksitas krisis  yang menambah berbagai persoalan yang dulu belum terpecahkan.

“Saya menghimbau kepada wartawan Indonesia terutama wartawan Katolik  untuk mejaga keutuhan dengan mempererat ikatan dan spirit ke-Indonesiaan demi utuhnya NKRI," tegasnya.

Dia menyebutkan, wartawan harus berpegang pada tiga hal. Yakni percaya pada penyertaan Tuhan, aktif menebarkan benih kasih dan kebenaran, serta terus mengabarkan warta gembira.

Markus Solo menggarisbawahi, dalam menunaikan tugasnya, PWKI menghadapi tantangan dunia Indonesia yang sebagian warganya berani berada dalam “post-truth era” atau “era pasca-kebenaran”, yang lebih suka menyebar hoax dan fake news daripada kebenaran.  

“Mengutip pernyataan Rasul Paulus, kelompok masyarakat post truth itu lebih suka memilih menjadi hamba-hamba huruf dan kalimat yang dapat menghancurkan nilai-nilai kehidupan bersama, daripada menjadi hamba-hamba roh yang menyebarkan nafas-nafas kehidupan yang menyelamatkan," terangnya.

"Tantangan inilah yang harus dihadapi para wartawan, terutama ketika berenang melawan arus, terjadi pertentangan nurani dan bahkan yang melukai integritas,” imbuhnya.

Dalam konteks ini, wartawan siapapun orangnya seharusnya menjadi “nabi modern" yang hidup di zaman masyarakat terbuka seperti sekarang ini. Para wartawan harus siap menjadi orang yang berani ditolak , dicemooh ketika harus memperjuangkan kebenaran

“Wartawan harus menjadi garam dan terang. Para wartawan tidak boleh membiarkan diri dimanipulasi oleh orang lain agar misi serta jati dirinya menjadi garam yang melezatkan dan terang yang menerangi tidak kabur agar diperoleh kebenaran,” ujarnya.

Hanya saja, diingatkan Markus, karena kebenaran cenderung memperhamba manusia atas nama hukum dan aturan, wartawan harus memiliki kasih untuk mengontrol kebenaran itu sendiri.

"Kasih adalah DNA, parameter kemuridan Kristus dan akhirnya kebenaran berfungsi untuk memerdekakan kita," pungkasnya.

Hadir secara virtual dalam acara ini adalah, Dubes Indonesia untuk Tahta Suci L. Amrih Jinangkung, Dirjen Bimas Katolik Y. Bayu Samodro dan pengusaha Franciscus Welirang dan sementara Mekominfo Johnny G. Plate hadir dalam sambutan virtualnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya