Berita

Gedung KPK di kawasan Kuningan, Jakarta/Net

Hukum

KPK Tidak Mungkin Kehilangan Akal, Persoalannya Berani Atau Tidak Usut Korupsi Bansos?

KAMIS, 21 JANUARI 2021 | 18:05 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seharusnya tidak kehilangan akal untuk mengungkap kasus korupsi bansos Covid-19 yang menjerat eks Mensos Juliari P. Batubara.

Demikian ditegaskan Direktur Pusat Studi dan Kajian Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu, Kamis (21/1).

"Menurut saya KPK tidak mungkin kehilangan akal mengungkap perkara (korupsi bansos Covid-19) ini," kata Feri Amsari.


Dia meyakini lembaga antirasuah memiliki banyak cara untuk menggali dan membongkar skandal korupsi bansos Covid-19 untuk rakyat tersebut.

Apalagi, menurut pegiat antikorupsi dari Universitas Andalas ini, KPK sudah mengantongi cukup bukti untuk mengusut tuntas skandal korupsi yang merugikan rakyat Indonesia di tengah musibah pandemi corona.

"Banyak teknik penyidikan yang dapat membongkar kejahatan ini. Apalagi pemotongan dana bansos itu kan buktinya sudah cukup kuat di KPK. Tinggal diperlukan keberanian menyelesaikan kasus ini," pungkas Feri Amsari.

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto sebelumnya mengatakan bahwa penyidik baru sekali memeriksa eks Mensos Juliari Peter Batubara terkait perkara bansos Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek 2020.

Karyoto menuturkan, bekas menteri dari PDI Perjuangan itu tidak mau 'buka mulut' atau membeberkan perkara yang menjeratnya tersebut. Karena itu, KPK akan menggalinya dari sisi yang lain.

"Sekarang ada seorang yang mempunyai informasi, dia tidak mau membuka sama sekali, kita cari yang di bawah, biarkan aja dia enggak ngaku, tapi kita mencari pendukung yang ke arah sana, gitu," ujar Karyoto kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/1).

Dalam kasus ini, Juliari telah ditetapkan tersangka bersama empat tersangka lainnya, yakni pejabat pembuat komitmen di Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono, serta Ardian I M dan Harry Sidabuke selaku pihak swasta.

Majalah Tempo dalam investigasinya pernah memberitakan nama putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka yang disebut sebagai 'anak Pak Lurah'. Nama Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani juga pernah muncul dalam kasus ini.

Bahkan, cover Koran Tempo berjudul "Tiga Penguasa Bansos" juga menjadi perbincangan publik. Dalam cover koran itu disebutkan dua politikus PDIP, Herman Hery dan Ihsan Yunus, diduga menguasai proyek pengadaan bansos 2020 di Kemensps yang dipimpin kolega mereka, Juliari P. Batubara.

Perusahaan-perusahaan yang diduga terafiliasi dengan kedua kader PDIP itu disebutkan mendapat jatah hingga Rp3,4 triliun, separuh dari anggaran bantuan untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. KPK juga telah menggeledah kantor sejumlah perusahaan yang diduga berafiliasi dengan keduanya.

Teranyar, investigasi Tempo menyebutkan bahwa tidak semua perusahaan dimintai jatah oleh Juliari. Jatah untuk Herman Hery dan Ihsan Yunus tidak dipotong karena mereka disebut orangnya "Madam". Sebutan Madam ini mengacu pada salah satu petinggi partai politik.

Belakangan, Gibran sudah membantah tudingan tersebut. Juga Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Dia menegaskan partainya tidak mengetahui hal tersebut, dan tidak pernah membicarakan adanya jatah.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya