Berita

Puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang dikumpulkan di JICT, Tanjung Priok, Jakarta/RMOL

Nusantara

Insiden SJ-182 Gaungkan Kembali Pertanyaan: Mengapa Indonesia Sering Alami Kecelakaan Pesawat?

SENIN, 11 JANUARI 2021 | 21:33 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kecelakaan yang menimpa pesawat Sriwijaya Air dengan kode registrasi PK-CLC seakan menyibak kembali luka lama dunia penerbangan Indonesia.

Data dari Aviation Safety Network yang dikutip The Washington Post baru-baru ini menyebut, Indonesia sudah mengalami 104 kecelakaan pesawar sipil sejak 1945, dengan lebih dari 1.300 korban jiwa. Itu artinya, Indonesia adalah tempat paling berbahaya untuk terbang di Asia.

Walaupun terus berupaya melakukan perbaikan, kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1) memicu munculnya pertanyaan yang sudah banyak dipertanyakan sejak lama.


Mengapa banyak kecelakaan pesawat terjadi di Indonesia?

Menurut seorang pakar penerbangan yang juga pemimpin redaksi AirlineRatings.com, Geoffrey Thomas, ada banyak faktor yang menyebabkan Indonesia menjadi rawan kecelakaan pesawat terbang.

Jika merunut berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu, banyak kecelakaan pesawat di Indonesia terkait dengan buruknya pelatihan pilot, kegagalan mekanis, masalah kontrol lalu lintas, hingga buruknya perawatan pesawat.

Inti dari berbagai penyebab tersebut adalah kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan geografis.

Sejak akhir 1990-an, Indonesia tidak memiliki regulasi dan pengawasan yang cukup untuk industri penerbangan. Setelah era itu, Indonesia dihadapkan pada fenomena tiket murah.

Fenomena tiket murah membuat maskapai berlomba-lomba menurunkan biayanya hingga harus mengorbankan infrastruktur transportasi yang efisien dan aman.  

Ketika itu, banyak kecelakaan pesawat yang terjadi hingga industri penerbangan Indonesia dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh sejumlah negara.

Amerika Serikat (AS) melarang maskapai Indonesia beroperasi dari 2007 hingga 2016 dengan alasan lemahnya sumber daya manusia dan kurangnya keahlian teknis. Uni Eropa juga memiliki larangan serupa yang dimulai sejak 2007 hingga 2018.

Tetapi Thomas mengatakan, Indonesia terus berupaya memperbaiki masalah-masalah tersebut, termasuk dengan meningkatkan inspeksi, memperkuat regulasi, hingga memperbaiki pelatihan pilot.

"Keterlibatan dengan industri telah meningkat secara signifikan dan pengawasan menjadi lebih ketat," ujarnya.

Buktinya, pada 2016, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) AS memberikan Indonesia kategori 1 yang berarti telah memenuhi standar keselamatan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

Lalu, mengapa kecelakaan Sriwijaya Air terjadi?

Para ahli menyebut terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan. Itu karena ada banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air jatuh, mulai dari kesalahan manusia, kondisi pesawat, hingga cuaca buruk.

Pesawat Sriwijaya Air sendiri dilaporkan hilang kontak hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat sempat delay selama 30 menit karena hujan.

Faktor kondisi pesawat sendiri tidak bisa dilepaskan. Terlebih nelayan yang berada di sekitar lokasi kejadian mengaku mendengar ledakan.

Pada 2008, Sriwijaya Air juga sempat mengalami insiden ketika satu pesawatnya tergelincir dari landasan pacu karena masalah hidrolik.

Meski begitu, Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena mengatakan, pesawat berusia lebih dari 26 tahun itu layak terbang, serta pernah digunakan oleh Continental Airlines dan United Airlines. Pesawat juga melakukan penerbangan pada hari yang sama sebelum kecelakaan.

Saat ini, proses penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat yang membawa 62 orang, termasuk 56 penumpang dan 6 awak itu masih dilakukan.

Tim gabungan sendiri sudah menemukan beberapa puing-puing pesawat dan lokasi black box.

Dengan black box, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengambil data rekaman penerbangan dan rekaman suara kokpit untuk memberikan gambaran apa yang terjadi.

Konsultan penerbangan Gerry Soejatman menyebut, penyelidikan bisa memakan waktu berpekan-pekan hingga berbulan-bulan dan melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli internasional.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya