Berita

Ilustrsi/Net

Dunia

Warga Turki Ramaikan Tagar #DeletingWhatsapp, Beralih Ke Aplikasi Perpesanan Buatan Lokal

SENIN, 11 JANUARI 2021 | 12:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Warga Turki ramai-ramai beralih ke aplikasi pesan instan buatan lokal setelah aplikasi perpesanan sejuta umat, WhatsApp, mewajibkan banyak pengguna untuk menyetujui aturan privasi barunya.

Menyusul pembaruan paksa WhatsApp dalam kebijakan privasinya minggu ini, pengguna di Turki mulai menolaknya di Twitter dengan tagar #DeletingWhatsapp, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (10/1).

Lebih dari 100 ribu postingan dibagikan dalam sehari di Turki dan pengguna terlihat beralih ke aplikasi pesan instan buatan lokal, BiP.


BiP adalah sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh raksasa jaringan seluler Turki Turkcell. Sejak pembaruan privasi WhatsApp, mereka dilaporkan telah memperoleh lebih dari 1,12 juta pengguna baru hanya dalam 24 jam, dengan lebih dari 53 juta pengguna di seluruh dunia, menurut data yang dibagikan oleh Turkcell

Selain BiP, Dedi, Signal, dan Telegram termasuk di antara yang sebagian besar diunggah.

Layanan pesan Signal, yang diluncurkan pada tahun 2014 menonjol sebagai salah satu platform yang lebih disukai pengguna daripada WhatsApp. Aplikasi, yang mulai disukai oleh lebih banyak pengguna setelah 2019, dikembangkan oleh organisasi nirlaba di AS, The Signal Foundation dan Signal Messenger.

Selain itu ada aplikasi lain yang menarik perhatian, yaitu aplikasi Telegram - yang berkantor pusat di London ini didirikan pada 2013 oleh dua bersaudara Rusia, pemrogram komputer Pavel Durov dan Nikolai Durov.

Perubahan privasi di Whatsapp termasuk berbagi data pribadi, seperti informasi akun, pesan, dan informasi lokasi dengan perusahaan Facebook. Dikatakan bahwa aplikasi tidak dapat digunakan jika persyaratannya tidak diterima.

Setelah mendapat reaksi keras, WhatsApp mengumumkan bahwa pengguna di 'Wilayah Eropa' tidak akan terpengaruh oleh pembaruan tersebut, karena data mereka tidak akan dibagikan dengan perusahaan Facebook.

Namun, menurut situs web aplikasi, wilayah yang dipermasalahkan hanya mencakup negara-negara Uni Eropa, yang secara efektif memaksa pengguna di Turki untuk menyetujui ketentuan untuk terus menggunakan aplikasi.

Beberapa orang mengecam standar ganda aplikasi, mengatakan WhatsApp takut akan hukuman dari negara-negara Uni Eropa berdasarkan aturan keamanan data.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya