Berita

Dokter anak dan konsultan pernapasan Dr. dr. Bob Wahyudin, SpA(K) dalam program mingguan Bincang Sehat/RMOL

Kesehatan

Angka Kematian Anak Di Indonesia Akibat Covid-19 Bak Fenomena Puncak Gunung Es

JUMAT, 08 JANUARI 2021 | 17:13 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia mengundang kekhawatiran tersendiri.

Data resmi pemerintah terbaru menunjukkan bahwa ada sekitar 91 ribu anak di tanah air positif terinfeksi virus corona. Sementara itu, lebih dari 23 ribu anak di Indonesia meninggal akibat virus tersebut.

"Kalau secara angka, Indonesia sekitar hampir tiga persen. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan, misalnya, dengan Amerika Serikat," ujar dokter anak dan konsultan pernapasan Dr. dr. Bob Wahyudin, SpA(K) dalam program mingguan Bincang Sehat bertajuk "Deteksi Dini Covid-19 Pada Anak" yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Politik RMOL pada Jumat (8/1).


Dia menjelaskan bahwa di Amerika Serikat, proporsi kesakitan anak akibat Covid-19 kira-kira serupa dengan Indonesia.

"Kalau di Indonesia, presentase anak yang terinfeksi Covid-19 sekitar 11 persen, di Amerika Serikat lebih tinggi sedikit, sekitar 12-15 persen," jelasnya.

"Tapi presentase anak yang meninggal di Amerika Serikat sekitar nol koma sekian persen. Sedangkan di Indonesia sekitar 2,7 persen dan ini sangat tinggi," tambah Bob.

Angka kematian anak yang tinggi akibat Covid-19 di Indonesia menunjukkan sejumlah hal yang mengkhawatirkan.

"Pertama, tata laksana Covid kita khususnya pada anak, kurang memadai," ujarnya.

"Kemudian yang kedua, bahwa jumlah presentase kasus Covid-19 pada anak itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Yang meninggal pun semakin meningkat. Ini seperti fenomena puncak gunung es," sambungnya.

Pasalnya, sambung Bob, jika anak sudah meninggal karena Covid-19, maka hal itu sudah sangat mengkhawatirkan. Karena anak-anak umumnya banyak yang mengalami asimtomatik atau tidak mengalami gejala.

"Bayangkan, jika demikian, berapa banyak anak yang sebenarnya sudah terinfeksi Covid-19 namun gejalanya ringan atau tidak bergejala," tandasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya