Berita

Aksi Tri Rismaharini di sekitaran Sudirman/Net

Hersu Corner

Drakor Mensos Risma: Salah Casting, Salah Skenario

KAMIS, 07 JANUARI 2021 | 17:36 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF

TIDAK perlu waktu terlalu lama. Teka-teki "gelandangan" yang ditemui Mensos Risma di Jalan Thamrin Jakarta, langsung terbongkar.

Seorang netizen mengenali pria berambut putih, berpakaian lusuh itu bukan gelandangan.

Dia seorang pedagang poster di Jalan Minang Kabau, Jakarta Selatan.


Karena yang dijual kebanyakan poster Bung Karno dan Megawati, netizen menyimpulkan dia anggota PDIP. Setidaknya simpatisan partai moncong putih itu.

Berbekal info netizen, media rama-ramai mendatanginya.

Benar saja. Pria itu bernama Nursaman. Sehari-hari dia pedagang es kelapa muda dan berjualan poster tak jauh dari Pasar Rumput.

Nursaman mengakui pria dalam foto itu dirinya. Anehnya dia mengaku tak pernah ke Jalan Thamrin. Apalagi bertemu Mensos.

Menurut istrinya, pria berusia 70 tahun itu sudah sering lupa. Dia pikun.

Apapun pengakuannya, satu fakta tidak bisa dibantah. Benar pria yang ditemui Risma dan akan dipulangkan ke kampung halaman itu adalah Nursaman.

Seorang pedagang yang diminta "berperan" sementara menjadi gelandangan.

Lokasi yang dipilih di sepanjang kawasan Jalan Sudirman-Thamrin. Sebuah jalan protokol, etalase Jakarta.

Bagaimana dengan dua gelandangan lain?

Satu orang seperti pengakuan Nursaman bernama Rizal. Sementara sang perempuan, tidak diketahui nama dan keberadaannya.

Temuan Mengagetkan


Adanya "gelandangan" yang "ditemukan" Risma di koridor Sudirman-Thamrin ini memang sangat mengagetkan.

Bukan hanya bagi mereka yang berkantor dan beraktivitas di kawasan itu. Tapi juga bagi Pemprov DKI.

Wagub DKI Ahmad Riza mengaku sangat heran. Seumur-umur dia tidak pernah menemukan kejadian aneh tapi nyata itu. Padahal dia sudah tinggal di Jakarta sejak usia 4 tahun.

Koridor Sudirman-Thamrin adalah kawasan utama. Sejak "dahulu kala" menjadi daerah terlarang bagi gelandangan dan pengemis. Dulu disebut gepeng.

Kawasan perkantoran, hotel dan tempat perbelanjaan prestisius ini, setiap hari dilewati para petinggi negara.

Para diplomat, dan juga tamu-tamu negara ketika berkunjung ke Indonesia, juga melewatinya.

Di ujung utara koridor ini, kita akan menemukan Istana Merdeka. Kawasan Ring 1. Harus benar-benar steril.

Jadi bagaimana ceritanya tiba-tiba ada gelandangan?

Hebatnya yang menemukan seorang  Risma. Seorang menteri yang baru dilantik, kurang dari dua pekan.

Kemana saja para menteri yang lain? Kemana saja Gubernur DKI Anies Baswedan?

Karena kejanggalan inilah - netizen menyebutnya sebagai drama korea (drakor) - langsung terbongkar.

Pertama, seting drakor ini salah lokasi. Kelihatannya pengatur laku tak begitu memahami Kota Jakarta.

Kedua, salah casting. Salah pilih pemeran.

Di Jakarta ini banyak sekali gelandangan. Cukup diberi uang Rp 100-150.000 mereka pasti bersedia bila diminta untuk memerankan diri sendiri. Tanpa harus berpura-pura.

Ketiga, salah skenario. Pengatur laku tampaknya terlalu bernafsu. Mereka tidak memperhatikan detil.

Mulai dari lokasi, sampai asesoris yang dikenakan. Para "gelandangan" itu punya kesamaan.

Sangat sadar protokol kesehatan. Maskernya baru. Standar yang dijual di apotek.

Salah satu gelandangan juga diketahui membawa HP android lengkap dengan earphone. Canggih banget!

Nampaknya sukses membuat aksi blusukan di bantaran sungai, kolong jembatan, dan kolong jalan, membuat abai.

Mereka mencoba membuat kisah lebih spektakuler.

Koridor Sudirman-Thamrin dipilih menjadi panggung besar sekelas Braodway.

Masalahnya, karena terlalu bernafsu. Tidak menguasai medan, kurang observasi. Tidak memperhatikan detil. Panggung sandiwara besar itu langsung terbongkar.

Sejak heboh Risma blusukan, kemana arahnya akan bermuara, sebenarnya sangat mudah terbaca.

Penunjukkan Risma, dari seorang walikota menjadi Mensos, mempunyai beberapa misi besar.

Pertama, mengalihkan isu korupsi bansos yang melibatkan seorang kader dan Wakil Bendahara Umum PDIP Juliari P. Batubara.

Kedua, mendowngrade kinerja Gubernur DKI Anies Baswedan.

Anies adalah ancaman nyata yang harus segera diaborsi, jauh sebelum pelaksanaan Pilpres 2024.

Ketiga, branding dan mendongkrak popularitas Risma.

Poin terakhir ini tampaknya erat kaitannya dengan skenario jangka panjang PDIP menguasai Jakarta, sekaligus Indonesia.

Apakah semua skenario besar itu salah?

Tentu saja tidak. Dalam politik hal itu sah-sah saja. Namanya juga usaha.

Cuma ada satu syarat yang tampaknya dilupakan.

Apa itu?

Seperti halnya korupsi, semua boleh dilakukan, dengan satu syarat!

Tidak ketahuan.

Penulis adalah pemerhati sosial, wartawan senior.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya