Berita

Kantor New York Stock Exchange (NYSE)/Net

Dunia

Regulator Sekuritas China: Rencana AS Hapus 3 Perusahaan Telekomunikasi Bermuatan Politis

SENIN, 04 JANUARI 2021 | 13:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Regulator sekuritas China mengatakan pada hari Minggu (3/1) bahwa rencana New York Stock Exchange (NYSE) yang akan menghapus tiga perusahaan telekomunikasi China, didasari oleh motif politik semata.

Pernyataan NYSE sendiri keluar pada Kamis pekan lalu. Dalam pernyataannya itu mereka akan menghapus China Mobile Ltd, China Unicom Hong Kong Ltd, dan China Telecom Corp Ltd, menyusul langkah yang diambil Presiden Donald Trump pada bulan November lalu untuk melarang investasi AS di 31 perusahaan yang menurut Washington dimiliki atau dikendalikan oleh militer China.

Menanggapi hal itu, Komisi Pengaturan Sekuritas China, dalam pertanyaan dan jawaban yang diposting di situs resminya, mengatakan rencana tersebut 'bermotif politik'.


"Langkah tersebut sepenuhnya mengabaikan situasi aktual dari perusahaan terkait dan hak serta kepentingan sah investor global dan sangat merusak aturan dan ketertiban pasar normal," kata regulator China, seperti dikutip dari Reuters, Senin (4/1).

Skala keseluruhan American Deposit Receipts yang terdaftar oleh ketiga perusahaan itu kecil, katanya, dengan total nilai pasar kurang dari 20 miliar yuan (3,07 miliar dolar AS), atau 2,2 persen dari total ekuitas ketiga perusahaan.

"Sekalipun dihapuskan, dampak langsung terhadap perkembangan perusahaan dan operasi pasar cukup terbatas," kata regulator.

Kementerian perdagangan China pada hari Sabtu (2/1) mengatakan pihaknya akan mengambil "tindakan yang diperlukan" untuk melindungi kepentingan perusahaan China.

China Mobile, China Unicom dan China Telecom mengatakan mereka belum menerima pemberitahuan dari NYSE tentang keputusan penghapusannya.

Dalam minggu-minggu terakhir sebelum Presiden terpilih Joe Biden menjabat pada 20 Januari, pemerintahan Trump telah meningkatkan sikap garis kerasnya terhadap China.

Hubungan antara dua ekonomi terbesar itu semakin tegang di tengah serangkaian perselisihan mengenai masalah-masalah seperti perdagangan dan hak asasi manusia.

Departemen Perdagangan AS telah menambahkan lusinan perusahaan China ke daftar hitam perdagangan pada bulan Desember, menuduh Beijing menggunakan mereka untuk memanfaatkan teknologi sipil untuk keperluan militer.

Para diplomat China telah menyatakan harapan bahwa pemilihan Biden akan membantu meredakan ketegangan antara kedua negara.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya