Berita

Koordinator penasihat hukum Syahganda Nainggolan, Abdullah Al Katiri/Net

Hukum

Jalani Sidang Eksepsi, Kuasa Hukum Syahganda: Dakwaan Menyiarkan Berita Bohong Adalah Inkonstitusional

SENIN, 04 JANUARI 2021 | 12:15 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Persidangan kasus dugaan penyebaran berita bohong dengan terdakwa Syahganda Nainggolan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat pada Senin pagi (4/1).

Persidangan yang berlangsung sejak pukul 10.18 hingga 10.42 WIB ini merupakan sidang pembacaan eksepsi atau nota keberatan dari penasihat hukum Syahganda.

Dijelaskan Koordinator penasihat hukum Syahganda, Abdullah Al Katiri, pihaknya menyampaikan empat pokok eksepsi atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada persidangan tadi.


"Dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap karena tidak menguraikan tempat dan waktu dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa," ujar Abdullah saat menyampaikan eksepsi seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Senin (4/1).

Selain itu, kata Abdullah, JPU dianggap tidak memahami perbedaan antara menyampaikan pendapat dengan menyiarkan berita bohong.

Selanjutnya, masih kata Abdullah, dakwaan terhadap Syahganda dianggap telah melanggar hak dasar warga negara Indonesia tentang kebebasan untuk menyampaikan informasi yang dilindungi UUD 1945, UU 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum dan UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia.

"Dakwaan telah melanggar hak dasar warga negara Indonesia atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum yang dilindungi oleh UUD 1945," jelas Abdullah.

Sehingga, lanjut Abdullah, apa yang disampaikan Syahganda dalam menyikapi proses pengesahan RUU Omnibus Law oleh DPR RI yang ditentang dan ditolak oleh jutaan rakyat Indonesia dengan cara mendukung unjuk rasa buruh, mahasiswa, pelajar maupun aktivis demokrasi dengan secara legal konstitusional, merupakan perwujudan dari hak dan kewajiban Syahganda sebagai WNI.

"Dengan demikian, dakwaan Penuntut Umum yang menyatakan terdakwa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong atau hoax adalah inkonstitusional," pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya