Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Sejarawan Top Rusia Dipenjara 12,5 Tahun Karena Terbukti Membunuh Dan Memutilasi Mahasiswinya

SABTU, 26 DESEMBER 2020 | 07:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pengadilan Rusia menghukum seorang sejarawan terkemuka yang dikenal karena pernah memerankan kembali adegan pertempuran Napoleon. Sejarawan itu terbukti bersalah atas pembunuhan keji mahasiswi yang sekaligus kekasih gelapnya tahun lalu.

"Pengadilan memerintahkan untuk menghukum Oleg Valeryevich Sokolov selama 12 tahun penjara berdasarkan Bagian 1 Pasal 105 (pembunuhan) dan satu tahun enam bulan penjara berdasarkan Bagian 1 Pasal 222 KUHP Rusia (kepemilikan senjata ilegal)di rutan berkeamanan tinggi, tanpa denda," kata Hakim Yulia Maximenko, Pengadilan Distrik Oktyabrsky di St. Petersburg, Jumat (25/12).

Oleg Sokolov (64) mantan profesor sejarah di St Petersburg State University, ditangkap di sebuah sungai  pada November tahun lalu dengan tas berisi potongan lengan Anastasia Yeshchenko, seorang mahasiswi pascasarjana berusia 24 tahun.


Sokolov mengaku bersalah atas pembunuhannya, tetapi dia mengatakan kepada pengadilan bahwa dia tidak merencanakan pembunuhan tersebut. Dia mengaku kalap saat pasangan gelapnya itu membuat komentar yang dianggapnya menghina tentang anak-anaknya dari istrinya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/12).

Jaksa penuntut awalnya meminta pengadilan di St Petersburg untuk memenjarakannya selama 15 tahun. Sokolov mengatakan akan sangat tersiksa oleh hukuman itu dan meminta keringanan.

Dalam putusan yang dibacakan pengadilan, hakim mengatakan Sokolov telah menembak Yeshchenko empat kali dengan senapan sebelum memutilasinya dengan pisau dan gergaji, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu dia mengeluarkan bagian-bagian tubuh itu dari tas dan membuangnya di Sungai Moyka, St Petersburg.

Ia sempat membuang ponselnya di sungai dekat rumahnya. Kemudin membuang potongan lengan ke sungai. Namun potongan lengan itu ternyata tidak tenggelam dan malah terapung. Dia pun masuk ke air yang sangat dingin. Tubuh Sokolov mengigil dan beku, dia tidak dapat bergerak di dalam air karena kedinginan. Saat itulah dia kemudian ditangkap, kata hakim.

Selain vonis karena pembunuhan keji, pengadilan juga memutuskan dia bersalah atas kepemilikan senjata dan itu termasuk dalam hukuman 12,5 tahun.

Sokolov adalah pakar Napoleon Bonaparte dan dianugerahi penghargaan Legion of Honor order of merit oleh Prancis. Penangkapannya ini menjadi berita yang mengejutkan.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya