Berita

Warga mengenang peristiwa berdarah di Siprus Turki/Net

Dunia

Turki Kenang Peristiwa 'Natal Berdarah' 1963

SELASA, 22 DESEMBER 2020 | 07:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Turki pada Senin (21/12)  mengenang peristiwa kelam di mana para martir dari Sprus Turki menjadi korban dalam peristiwa 'Natal Berdarah' tahun 1963.

Kementerian Pertahanan Turki turut mengenang peristiwa berdarah itu dalam akun media sosialnya.

"57 tahun yang lalu hari ini, serangan terencana dan brutal diluncurkan terhadap saudara-saudara Siprus Turki kami oleh organisasi teroris Yunani EOKA," tulis kementerian.


"Kami mengenang para martir kami dengan ucapan belasungkawa, pada hari peringatan serangan yang memulai konflik di pulau itu dan tercatat dalam sejarah sebagai #KanliNoel (Bloody Christmas/ Natal Berdarah)" tambahnya,  seperti dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (22/12).

Tahun 1963, Warga Siprus Turki mendapat perlakuan yang kejam, mereka didiskriminasi dan diasingkan oleh orang Siprus Yunani. Mereka mendapat serangan sistematis dan komprehensif yang dimulai pada tanggal 21 Desember tahun itu.

Sebanyak 103 desa Siprus Turki diserang dan menyebabkan ratusan kematian. Yang lainnya berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi.

Pada tahun 1967, sebuah junta militer menggulingkan pemerintah di Yunani dan mulai membuat pulau itu tidak stabil. Junta menyerang dua desa di Siprus, Bogazici dan Gecitkale.

Bulent Ecevit, perdana menteri Turki saat itu, menginstruksikan tentara untuk mengambil tindakan dan Operasi Perdamaian Siprus yang diluncurkan pada 20 Juli 1974.

Operasi perdamaian tersebut membuktikan klaim Turki tentang penganiayaan terhadap orang Turki saat sejumlah kuburan massal dibongkar di beberapa kota Siprus Turki di pulau itu.

Keberhasilan operasi tersebut membuka jalan bagi pembentukan Negara Federasi Turki Siprus pada 13 Februari 1975, dengan Rauf Denktas sebagai presiden.

Pada 15 November 1983, Negara Federasi Turki Siprus mengadakan sesi luar biasa dan para anggota parlemen dengan suara bulat menyetujui pembentukan TRNC.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya