Berita

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy/Net

Dunia

Tak Terima Dituduh Lakukan Genosida, Turki Tolak Resolusi 1597 Soal Konflik Nagorno-Karabakh

SABTU, 19 DESEMBER 2020 | 16:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Turki keluarkan pernyataan baru yang isinya menolak resolusi tentang Nagorno-Karabakh yang diadopsi oleh majelis rendah Parlemen Belgia, Jumat (18/12) waktu setempat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy mengatakan resolusi tahun 1597 terkait Nagorno-Karabakh yang diadopsi oleh Dewan Perwakilan Belgia tidak bersifat historis dan tidak sesuai dengan fakta.

“Resolusi 1597 tidak historis, legal, dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Kami menolak keputusan ini, termasuk sangkaan dan tuduhan tidak berdasar terhadap Turki,” katanya dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu (19/12).


Aksoy menekankan bahwa keputusan ini adalah contoh nyata tentang bagaimana Dewan Perwakilan Rakyat Belgia dan beberapa parlemen menjadi alat retorika satu arah Armenia, bertindak dengan prasangka, dan tetap menjadi sandera bagi kepentingan sempit yang ditujukan pada politik dalam negeri.

"Keputusan itu tidak akan berkontribusi pada hubungan Turki-Belgia, juga tidak akan melayani upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan," katanya.

Dia menambahkan bahwa keputusan seperti itu juga menunda proses penerimaan fakta Armenia dan mendorongnya untuk menghindari tanggung jawabnya.

"Rujukan pada peristiwa tahun 1915 dalam keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Belgia untuk menyatakan 9 Desember sebagai hari peringatan para korban genosida, yang diadopsi pada hari yang sama, juga bertentangan dengan prinsip dasar dari hukum, terutama keputusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR),” katanya.

Aksoy mengatakan bahwa dia mengharapkan Belgia untuk bertindak dengan alasan dan menghindari mengambil langkah-langkah yang akan membayangi hubungan bilateral.

Sikap Turki pada peristiwa 1915

Posisi Turki pada peristiwa tahun 1915 adalah bahwa kematian orang-orang Armenia di Anatolia timur terjadi ketika beberapa pihak bersekutu pada invasi Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Relokasi orang Armenia berikutnya mengakibatkan banyak korban.

Turki keberatan dengan penyajian insiden ini sebagai 'genosida', dan menggambarkannya sebagai tragedi di mana kedua belah pihak menderita korban.

Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi bersama sejarawan dari Turki dan Armenia serta pakar internasional untuk menangani masalah tersebut.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya