Berita

Dubes Arif Havas Oegroseno dalam dialog virtual Back Azimuth/RMOL

Dunia

Dubes Havas: Kita Ingat Hilangnya Sipadan Ligitan, Tapi Lupa Bahwa Wilayah Indonesia Bertambah Luas Di Barat Aceh

MINGGU, 13 DESEMBER 2020 | 23:19 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Indonesia tidak diragukan lagi merupakan negara yang diakui secara internasional sebagai sebuah negara kepulauan, bahkan yang terbesar di dunia.

"Jadi, satu bangunan negara kepulauan yang dibayangkan oleh para pendiri bangsa, suatu bangunan integritas teritorial itu sudah set up secara complete," ujar Dutabesar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno dalam dialog virtual Back Azimuth bertajuk "Deklarasi Djuanda Dan Kita" yang dilaksanakan pada Minggu malam (13/12).

Meski begitu, bukan berarti tidak ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi di dalam negeri. Salah satunya yang dia soroti adalah mengenai perhatian semua pihak di tanah air terkait wilayah kedualatan Indonesia itu sendiri.


"Soal kedaulatan misalnya, yang selalu muncul adalah (masalah) kita kalah dengan Malaysia dan kita kehilangan Sipadan dan Ligitan, hal itu secara terus menerus disampaikan," kata Havas, merujuk pada sengketa Indonesia dengan Malaysia mengenai dua pulau, yakni Sipadan dan Ligitan, yang berada di sekitaran Selat Makasar. Sengketa tersebut berakhir dengan keputusan Mahkamah Internasional pada awal tahun 2000an yang memutuskan bahwa dua pulau itu merupakan milik Malaysia.

Havas menyebut, di satu sisi memang Indonesia pernah kehilangan dua pulau tersebut. Namun di sisi lain, Indonesia juga sebenarnya berhasil menambah luas wilayahnya yang bahkan jauh lebih besar daripada Sipadan Ligitan. Sayangnya, hal tersebut kurang mendapat sorotan dan apresiasi dari dalam negeri sendiri.

"Tapi ketika Indonesia mendapatkan wilayah tambahan di barat Aceh yang luasnya sebesar pulau Madura, kita sudah kalkulasi sekitar 20 ribu kali lebih besar daripada Sipadan Ligitan, ini apresiasinya tidak banyak. Bahkan tidak banyak yang tahu bahwa kita mampu melakukan diplomasi untuk menambah lagi wilayah kita, " papar Havas yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI.

Pernyataan Havas tersebut merujuk pada sebuah wilayah di barat Aceh yang sudah mendapatkan pengakuan dari PBB dan diberi hak oleh PBB sebagai wilayah tambahan kontinental Indonesia pada tahun 2017 lalu. Wilayah baru yang dimaksud memiliki luas sekitar 4.000 kilometer persegi.

Namun Havas menyayangkan bahwa selain kurang mendapat apresiasi di dalam negeri, tidak ada aktivitas lanjutan yang memadai terkait dengan wilayah baru Indonesia tersebut.

"Lebih parah lagi, sudah diakui PBB tapi tidak ada kegiatan survei atau research di sana. Meski begitu, sekarang kita juga masih memperjuangkan lagi peluasan ke wilayah selatan Sumba dan utara Papua. Kita lihat nanti apakah kita. akan dapat suatu apresiasi yang pas atau tidak," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya