Berita

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran/Net

Pertahanan

Tewasnya 6 Orang Laskar FPI Harus Jadi Pelajaran, Gunakan Bodycam Kepada Seluruh Anggota Polri

SENIN, 07 DESEMBER 2020 | 20:11 WIB | OLEH: AZAIRUS ADLU

Kasus tewasnya enam orang anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) yang ditembak aparat kepolisian di Jalan Tol Cikampek membuat heboh masyarakat.

Opini publik terbelah, ada yang menyatakan langkah polisi sudah tepat karena anggota laskar dianggap membahayakan keselamatan anggota, terlebih, pernyataan Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menyebut anggota laskar tersebut membawa senjata api dan tajam.

Jadi apa yang terjadi sudah sesuai aturan main yang berlaku, siapa saja yang mengancam jiwa keselamatan anggota Polri bisa dilakukan tindakan tegas dan terukur, dalam hal ini tembak di tempat yang mengakibatkan kematian.


Namun tidak sedikit juga publik yang mempertanyakan langkah anggota polisi yang menembak mati enam anggota laskar tesebut. Publik menilai, apa perlu ditembak mati, mengapa tidak dilumpuhkan saja, atau se-urgent itu hingga harus diberi peluru panas hingga tewas?

Terlebih, keterangan dari FPI menyatakan, alasan Polri menembak mati anggota laskarnya adalah fitnah, tidak sesuai dengan fakta.

FPI mengklaim, tidak ada penyerangan yang dilakukan oleh anggota laskar, dan tidak ada anggota laskar FPI yang memiliki senjata api, seperti apa yang disampaikan Kapolda Metro Jaya.

Media massa pun bergerak cepat, demi mendapat informasi yang jernih, ramai-ramai mencoba mencari klarifikasi, bila beruntung dapat salinan rekaman CCTV dari PT Jasa Marga, perusahaan negara selaku operator jalan tol.

Sialnya, Jasa Marga nampak tidak mau terlibat, mereka mengarahkan pewarta agar mengklarifikasi hal tersebut ke polisi. Mereka menegaskan tidak mempunyai informasi yang dibutuhkan media.

Seperti slogan milenial zaman sekarang, no picture hoax, keterangan yang disampaikan Polda Metro Jaya dan FPI belum bisa dianggap benar, keduanya hingga saat ini masih sah untuk menyampaikan narasinya masing-masing.

Yang jelas, ada enam anggota laskar FPI tewas karena ditembak petugas, namun sebab akibat masih bisa diperdebatkan, hingga ada bukti otentik rekaman yang menampilkan kejadian realnya.

Menarik diulas, sebetulnya polisi sudah pernah membaca kejadian seperti ini bakal terjadi, kejadian dimana ketika polisi mengambil langkah penegakan hukum namun berpotensi bias, tidak dipercaya publik atau mungkin menyalahi prosedur.

Pada akhir 2019 lalu, Polda Metro Jaya menjalankan program bodycam atau kamera tubuh yang nyantol di badan anggota polisi yang bertugas, kala itu, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya berupaya meningkatkan pelayanan berbasis teknologi dalam penindakan terhadap pelanggar lalu lintas.

Salah satunya melengkapi body camera atau bodycam yang dipasang di seragam.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya saat itu, AKBP M Nasir mengatakan, petugas dilengkapi bodycam untuk mencegah penyalahgunaan wewenang anggota di lapangan, seperti pungli.

Nah, Andai bodycam itu berjalan hingga sekarang, atau bukan hanya dipasang di polantas, tapi juga anggota yang bertugas di bidang reserse, mungkin bisa dengan mudah polisi menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya. Jadi tidak akan ada lagi pertanyaan, apakah yang dilakukan polisi kepada enam anggota laskar itu sudah sesuai prosedur, sesuai dengan aturan.

Atau memang ada kesalahan, yang perlu dievaluasi dan diberikan hukuman, lagi-lagi harus sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku di negara ini.

Jadi kalau kasus ini berjalan tanpa ada bukti otentik berupa rekaman video atau mungkin saksi mata yang netral. Maka jangan salahkan publik bila punya penilaian lain terhadap langkah tegas yang terlajur polisi lakukan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya