Berita

Tragedi Desember 1944/Net

Histoire

Dekemvriana Di Athena: Puluhan Demonstran Tewas Di Tangan Aparat Pada Tragedi Desember 1944

JUMAT, 04 DESEMBER 2020 | 06:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Letusan tembakan terdengar dari arah atap gedung parlemen di Lapangan Syntagma siang itu. Menyusul puluhan orang jatuh serempak dengan darah tergenang.

Pagi hari yang mengejutkan di tanggal 3 Desember 1944. Semua orang berlarian bergegas menuruni tangga melihat tubuh-tubuh terkapar di lapangan. 

Itu adalah peristiwa paling berdarah yang dikenal sebagai 'Dekemvriana' atau Tragedi Desember. Serangkaian bentrokan terjadi berminggu-minggu di Athena. Rentetan penembakan yang menewaskan 28 penduduk sipil dan melukai ratusan orang lainnya di Syntagma itu memulai satu periode menyedihkan dalam sejarah Yunani, setelah kepergian Nazi.


Inggris tiba pada 18 Oktober di Athena untuk mendirikan pemerintahan sementara 'Persatuan Nasional' di bawah Georgios Papandreou. Kedatangan mereka dianggap sebagai sekutu. Inggris dihormati dan dielu-elukan. Tidak ada yang mencurigai maksud kedatangan Inggris. Bahkan, tidak ada yang mengira bahwa saat itu sebenarnya masyarakat Yunani tengah menyerahkan negara dan hak-hak mereka.

Dekemvriana mengacu pada serangkaian bentrokan yang terjadi selama Perang Dunia II di Athena yang terjadi  sejak dari 3 Desember 1944 hingga 11 Januari 1945, antara pasukan Perlawanan sayap kiri Yunani (EAM-ELAS, KKE) dan Angkatan Darat Inggris, yang didukung oleh Pemerintah Yunani, polisi kota, dan organisasi sayap kanan 'X' dari Papandreou.

Pada 1 Desember, semua memanas ketika Papandreou memutuskan bahwa semua kelompok perlawanan Yunani harus dilucuti, kecuali Brigade Gunung Yunani ke-3 dan Resimen Suci, keduanya setia kepada pemerintah 'Persatuan Nasional', seperti dikutip dari Neoskosmos.

Dekrit tersebut mencakup ketentuan bahwa beberapa pejuang ELAS dan EDES akan tetap bersenjata sampai tentara Jerman di Kreta dan Rhodes dihilangkan. Kelompok ketiga yang disebut Organisasi 'X' (Chites) adalah kaum monarki ultra-kanan yang juga mendukung pemerintah dan tampaknya tidak mungkin dilucuti. 

EAM menuduh Organisasi 'X' sebagai kolaborator Nazi dan enam menterinya mengundurkan diri dari jabatan kabinet mereka sebagai protes terhadap keputusan tersebut.

Hari itu, Minggu pagi yang cerah di 3 Desember 1944. Orang-orang berjalan menuju Lapangan Syntagma, ketika EAM mengorganisir pemogokan massal.
Polisi terlihat berjaga-jaga dan sebagian memblokir jalan. Beberapa ratus orang berhasil menerobos. Saat mereka mendekati alun-alun, seorang pria berseragam militer berteriak, "Tembak para bajingan!"

Menjelang siang, kerumunan demonstran kedua memasuki alun-alun, hingga alun-alun dipenuhi oleh sekitar 60 ribu orang. Setelah beberapa jam, demonstran kian bertambah jumlahnya. Ada yang menyebutkan demonstrasi dipenuhi sekitar 250 ribu orang.

Demontsrasi itu kemudian berubah menjadi petaka ketika suara letusan tembakan beruntun terdengar. Kekerasan tragis meletus dan para pengunjuk rasa dijatuhkan dalam tembakan dari pasukan X dan LOK (Lochos Oreinon Katadromon), serta pasukan Inggris dan pasukan polisi.

Hanya dalam hitungan menit saja, tubuh-tubuh itu berjatuhan. Lainnya berhamburan menyelamatkan diri. Total 28 kematian (termasuk seorang anak laki-laki berusia enam tahun) dan ratusan lainnya luka-luka.

Konflik itu adalah puncak dari ketegangan berbulan-bulan antara komunis EAM-ELAS, gerakan perlawanan terbesar negara itu, yang menguasai sebagian besar Yunani, dan pemerintah yang didukung Inggris, yang telah kembali dari pengasingan setelah penarikan Jerman pada Oktober 1944.

Pembunuhan itu memicu konfrontasi bersenjata besar-besaran antara EAM dan Inggris, di bawah Jenderal Ronald Scoble.

Dekemvriana berakhir dengan kekalahan EAM-ELAS, yang mengarah pada pelucutan senjata dalam 'Perjanjian Varkiza', seperti ditulis oleh media GCT.

Kekalahan pertama ini mematahkan kekuatan EAM dan diikuti oleh periode 'Teror Putih', yang berkontribusi pada pecahnya Perang Saudara Yunani pada tahun 1946.

Konflik berlanjut sepanjang bulan Desember, dengan kekuatan pemerintah perlahan-lahan mendapatkan kekuasaan.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya