Berita

Lokasi wisata Jaisalmer/Net

Bisnis

Pandemi, Pariwisata India Turun Hingga 69 Persen

SENIN, 23 NOVEMBER 2020 | 08:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Industri pariwisata India menjadi korban terbesar dari pandemi virus corona di negara itu. Walaupun pemerintah telah mencabut penguncian dengan harapan roda perekonomian akan kembali membaik, tetapi konektivitas belum sepenuhnya pulih. Kebanyakan perjalanan yang ada masih terbatas pada hal-hal yang mendesak, mengakibatkan penurunan tajam pada jumlah turis di seluruh India.

Salah satu tempat wisata yang sangat terdampak adalah Rajasthan, lokasi paling populer di India karena pemandangannya yang indah dengan gurun Thar, benteng dan istana bersejarah, serta kuil berusia berabad-abad.

Sayangnya, sejak Maret arus turis di negara bagian gurun itu menurun drastis. Data kedatangan turis dari departemen pariwisata Rajasthan menunjukkan bahwa pada 2020, negara bagian telah mengalami penurunan turis sebanyak 69,3 persen.


Rendahnya arus masuk wisatawan yang signifikan telah meninggalkan dampak yang dalam pada industri perhotelan yang bergulat dengan permintaan yang sangat sedikit.

Pemilik resor KK di Jaisalmer Rajasthan, Kailash Vyas, mengatakan bahwa pembukaan resor dan hotel setelah kuncian dicabut malah menjadi kerugian yang lebih besar bagi mereka.

“Kami membuka properti setelah penguncian tetapi tidak dapat menghasilkan uang bahkan untuk membayar staf kami. Misalnya, dari 52 kamar hanya 2 kamar yang ditempati pada bulan Juli dan September,” kata Vyas, seperti dikutip dari The Wire, Minggu (22/11).

Karena masalah pembatasan perjalanan, calon wisatawan dari Delhi, Mumbai, dan Benggala Barat juga tidak dapat mencapai Rajasthan.

“Sejak September, hanya wisatawan dari sekitar yang datang. Kebanyakan dari tempat-tempat yang hanya butuh sehari berkendara seperti Gujarat,” kata Kundan Bhati, pemilik hotel Surya Vilas di Jaisalmer.

Bahkan, departemen pariwisata negara hanya mempromosikan pariwisata dari daerah sekitarnya.
“Konsep 'Kunjungan Singkat, Menginap Aman' dimaksudkan untuk memastikan bahwa pelancong dari negara bagian terdekat dapat datang untuk rekreasi dalam suasana aman dan terjamin,” Alok Gupta, Sekretaris Utama, Departemen Pariwisata, Pemerintah Rajasthan mengatakan kepada Financial Express Online.

Turis sekarang lebih suka bepergian dengan kendaraan pribadi, sehingga pengemudi taksi lokal juga menghadapi kesulitan dalam mencari nafkah. Sebagian besar turis biasanya datang dengan kereta api atau penerbangan. Itu artinya, mereka akan membutuhkan taksi lokal untuk berkeliling kota. Namun, sekarang tidak lagi.

“Tidak ada fasilitas Ola atau Uber di Jaisalmer karena turis bergantung pada taksi lokal dari penjemputan di bandara hingga lokasi tamasya,” kata Bhanu Singh, pemilik taksi di Jaisalmer.

Banyak pengemudi yang bekerja di bawah kontraktor mana pun telah kehilangan pekerjaan. “Tanpa pekerjaan, tidak ada pendapatan. Kontraktor tidak mampu membayar angsuran bulanan mobil mereka sehingga mereka merumahkan pengemudinya, ”tambah Singh.

Banyak pengemudi dan para pengusaha kecil yang berharap ada perhatian dari pemerintah. Beberapa asosiasi masyarakat berusaha mengangkat suara bagi mereka yang bekerja di sektor pariwisata, mengatakan bahwa pemerintah belum memberikan bantuan apa pun kepada pekerja berupah harian yang bergantung pada industri ini.

“Meskipun kami berulang kali menuntut untuk memberikan fasilitas pinjaman kepada pengemudi, pemandu dan seniman rakyat, tanpa banyak kerepotan, pemerintah tidak pernah memperhatikan,” kata seorang aktivis.

Pada masa-masa sulit seperti itu, pinjaman dan bantuan dari pemerintah dapat membantu mereka memulai dari awal.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya