Berita

Presiden Joko Widodo saat mengikuti KTT ASEAN 2020 secara virtual/Net

Politik

Jokowi Harusnya Mampu Atasi Persoalan Intoleransi Beragama Sejak Pertama Dilantik Jadi Presiden

SENIN, 16 NOVEMBER 2020 | 21:06 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Keprihatinan soal adanya perilaku intoleransi beragama yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-37 adalah kondisi faktual yang harus benar-benar dibenahi pemerintah Indonesia.

Menurut direktur riset Setara Institute Halili Hasan, Presiden Jokowi seharusnya bisa mengatasi persoalan intoleransi dalam beragama. Sebab sebagai seorang kepala negara, Jokowi memiliki beragam instrumen pendukung.

"Presiden Jokowi memiliki segala kewenangan politik dan hukum yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan terukur dalam kerangka demokrasi untuk mengatasi persoalan akut intoleransi di Indonesia," jelas Halili Hasan dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/11).


Setara sendiri sempat menaruh harapan besar kepada Presiden Jokowi saat memulai kepemimpinannya di tahun 2014 untuk membereskan persoalan intoleransi yang sudah berlangsung lama. Di mana menurut Halili, kondisi kebebasan beragama sempat megalami stagnasi di era presiden terdahulu.

"Namun merujuk pada situasi objektif terkini, harapan publik terhadap Pemerintahan Jokowi memudar. Periode pertama kepresidenan Jokowi tidak menghasilkan teroboson yang signifikan dalam pemajuan toleransi dan kebebasan beragama/berkeyakinan," jelasnya.

Alih-alih membangkitkan harapan publik, kata dia, tahun pertama periode kedua pemerintahan Jokowi justru menunjukkan lemahnya kepemimpinan nasional dalam jaminan hak untuk beragama secara merdeka sesuai dengan konstitusi.

Lemahnya kepemimpinan nasional di bidang pemajuan toleransi dan kebebasan beragama/berkeyakinan dipertegas dengan buruknya kinerja kementerian yang secara langsung terkait dengan isu ini, khususnya Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama.

"Kedua kementerian tersebut sejauh ini belum menunjukkan terobosan apa pun, selain kehebohan wacana tidak lama setelah pelantikan kabinet," tandasnya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya